PAGATAN, banuapost.co.id– Kontroversi penggunaan kaya anjay yang saat ini sedang viral, menjadi pokok bahasan menarik dalam diskusi publik yang digelar Komunitas Literasi Bestari Tanah Bumbu.
Diskusi yang digelar lesehan di objek Wisata Pantai Pagatan, Ahad (6/9), dihadiri sejumlah aktivis, pegiat literasi dan pengurus komunitas kepemudaan.
Mia Ismed selaku pemantik diskusi mengatakan, penggunaan kata anjay yang saat ini sedang menjadi bahan perbincangan, merupakan gejala bahasa yang biasa. Tidak perlu direspon secara berlebihan, bahkan dibesar-besarkan.
“Kata anjay menjadi ramai diperbincangkan khalayak, karena diperkarakan publik figur. Ada tendensi pribadi di belakangnya, sehingga memberi respons berlebihan terhadap gejala bahasa. Ini merupakan tindakan yang kurang tepat,” jelas Mia yang memiliki disiplin ilmu bidang kebahasaan ini.
Dari aspek kebahasaan, kata anjay merupakan kosa kata bahasa gaul yang digunakan pada lingkungan kelompok tertentu. Penggunaan kata Anjay dalam pergaulan keseharian, bisa saja melanggar norma kesantunan berbahasa jika lawan bicara merasa dipermalukan.
“Dalam teori prakmatik, penggunaan kosa kata tertentu bisa saja melanggar kesopanan jika lawan bicara merasa kehilangan muka. Namun jika lawan bicara tidak merasa keberatan, berarti tidak ada kaidah yang dilanggar,”ujar guru Bahasa Indonesia SMPN 2 Simpang Empat ini.
Dijelaskannya, pemaknaan satu bahasa tidak dapat dilihat hanya dari satu aspek. Perlu melihat konteks dan kotek percakapan. Aspek budaya juga harus dipertimbangkan.
“Kata jancuk dalam tradisi lisan masyarakat Jawa Timur misalnya, dapat dimaklumi sebagai frase keakraban. Namun berbeda halnya jika kata tersebut digunakan oleh penutur dari daerah lain,” kata Mia mencontohkan.
Senada dengan Mia, pemantik diskusi lain, Faisal, menganggap ada motif ekonomi di balik boomingnya kata anjay. Isu ini sengaja diramaikan atas motif komersialisasi.
“Selain karena tendensi pribadi oknum publik figur, wacana ini juga sudah menjadi materi konten virtual. Sehingga menguntungkan pihak tertentu, “ jelasnya.
Namun demikian, lanjut mahasiswa semester akhir UIN Yogjakarta ini, fenomena penggunaan kata anjay perlu disikapi secara moral. Pasalnya, frase ini banyak digunakan oleh remaja yang notabene harus menjungjung norma kesopanan dan adat ketimuran.
“Seperti kita tau, kata anjay ini berasal dari nama binatang yang kemudian dijadikan istilah. Meskipun digunakan sebagai ungkapan kekaguman, namun penggunaan kata ini tetap memiliki implementasi moral, terutama bagi generasi penerus,“ ujarnya.
Diskusi publik ini merupakan salah satu program kerja Komunitas Literasi Bestari. Diskusi ini juga mendapat dukungan dari beberapa komunitas kepemudaan lainnya di Tanah bumbu.
Kegiatan yang berlangsung di tengah kunjungan wisatawan di Pantai Pagatan ini, juga didukung Dinas Perpustakaan dan Kearsipan Daerah Kabupaten Tanah Bumbu. Selain diskusi, di lokasi juga digelar lapak baca mobil perpustakaan keliling. (uza/foto: bzak)