BANJARMASIN, banuapost.co.id– Manuver politik Cagub Kalsel nomor urut 02, Denny Indrayana, menjelang Pemugutan Suara Ulang (PSU), 9 Juni mendatang, ancam perpecahan di tengah masyarakat.
Pasalnya, strategi politik yang dilakukan Denny dan timnya dalam membangunan opini melalui medsos, seperti youtube, instagram dan FB, seakan-akan paslon nomor urut 01 berlaku curang.
“Ini memang biasa dilakukan kandidat, sebagai bentuk pembangunan opini. Karena tidak punya bahan lain, semisal prestasi atau capaian kerja, yang layak dibanggakan,” kata pangamat politik dari Pusat Kajian Politik dan Kebijakan (PKPK), M Saiful, yang diminta komentarnya, Ahad (11/4), seiring dengan naiknya tensi politik di Kalsel.
Cara kerja semacam ini, lanjut Saiful, cara tidak elegan dalam sebuah kontestasi pemilihan pemimpin yang seharusnya mengedepankan prestasi dan kerja nyata yang dilakukan kandidat tersebut.
“Gaya pembangunan opini semacam ini, sama sekali tidak mendidik dan mencerdaskan politik warga. Sebaliknya akan menimbulkan politik pecah belah serta memperbesar konflik horizontal dalam masyarakat,” tegasnya.
Sebab, sambung Saiful, secara tidak langsung mengajarkan masyarakat untuk saling membenci. Padahal sejatinya dalam sebuah kontestasi kepala daerah, masyarakat diajar agar bisa berpolitik secara cerdas.
Dengan manuver politik seperti itu, menurut M Saiful, bisa ditarik kesimpulan awal, opini yang selama ini dibangun cuma berhenti pada mencari kekurangan pihak lain. Karena tidak mampu menampilkan prestasi yang dicapai.
“Ini sangat menyesatkan. Tidak elegan dalam sebuah pemilihan pemimpin, karena masuk dalam kategori menghalalkan segala cara untuk meraih kekuasaan,” tandasnya.
Hampir senada, menurut Muslim, banyak bentuk kampanye di medsos berisi konten yang mengandung unsur tuduhan dan fitnah (black campaign) hanya untuk menjatuhkan salah satu paslon.
Padahal sebagaimana peraturan, tak ada lagi kegiatan kampanye dalam bentuk apa pun selama menjelang PSU terutama di wilayah persebutan suara. Namun sebaliknya di media sosial, aktivitas kampanye yang dibungkus dalam berbagai kegiatan, justru semakin intens.
“Contoh yang paling mutakhir, tuduhan terkait sidak bakul berisi sembako di daerah-daerah oleh tim Paman Birin,” jelas salah satu tim BirinMu itu.
Namun setelah dilakukan penelusuran, lanjut Muslim, bakul yang dijadikan bukti ternyata sisa bakul yang dibagikan Paman Birin saat kejadian banjir. Bahkan bukan di area PSU.
“Ini memang kebiasaan Paman Birin sejak dulu. Itu duit pribadinya, murni bentuk kepedulian sosial. Anehnya beredar tuduhan, pembagian bakul di daerah PSU oleh Tim Paman,” kata warga Kabupaten Banjar itu.
Demikian juga tuduhan adanya stiker: Ayo ke TPS berbentuk bulat dengan tulisan angka yang menandakan jumlah pemilih di rumah tersebut.
“Kenyataannya di daerah Mataraman ada juga stiker Ayo ke TPS yang bentuknya kotak dan ngak ada tulisan angkanya. Jangan-jangan tim Denny sendiri yang menuliskan angka-angka tersebut,” imbuhnya. (emy/foto: ist)