PELAIHARI, banuapost.co.id– Distribusi gas bersubsidi Liquified Petroleum Gas (LPG) 3 Kg di Tanah Laut (Tala) belum berjalan dengan baik. Padahal sampai-sampai ikut melibatkan perbankan agar benar-benar sampai ke yang berhak. Akibatnya, warga di pinggiran Kota Pelaihari masih sering kesulitan mendapatkan gas yang bertuliskan: Untuk Masyarakat Miskin itu.
Warga hanya mendapatkan pasokan 1 sampai 2 kali dalam satu bulan dari pangkalan. Kalau habis di pangkalan warga terpaksa mencari sampai ke warung-warung yang menjual. Harganyapun Rp 25.000 sampai Rp30.000. Sedang HET di Tala hanya Rp 19.000.
Sering kosong di pangkalan dan mahalnya harga di pengecer, warga di Desa Galam dan Desa Tirta Jaya, Kecamatan Bajuin, terpaksa menggunakan kayu bakar untuk memasak.
Padahal warga mengaku sudah nyaman menggunakan gas ‘melon’, karena tidak perlu keluar masuk hutan mencari kayu bakar. Belum lagi kalau musim hujan, susah mengeringkan kayu sebelum digunakan untuk memasak.
Hal ini diakui Mahrina Asmawati, warga RT 2 Desa Galam, Kecamatan Bajuin, yang sudah beberapa bulan terakhir memanfaatkan kayu bakar untuk memasak.
“Terpaksa menggunakan kayu bakar, karena gas di pangkalan sering kosong. Sedang beli diluaran atau warung Rp 25.000, itu pun sering kosong juga,” kata Mahrina, Rabu (23/3).
Menurut Mahrina untuk mengurangi asap di dalam rumah, terpaksa membuat dapur kecil di samping rumah untuk memasak atau merebus air.
Rustam, warga RT 2 Desa Galam lainnya, juga mengaku keluarganya sudah jarang menggunakan gas LPG 3 kg, sejak gas sering menghilang dari pangkalan. Untuk keperluan memasak, Rustam mengambil kayu bakar di dalam hutan tidak jauh dari pemukiman.
“Biasanya saya mencari kayu cukup untuk keperluan satu minggu. Kayu sebelum digunakan terlebih dahulu dikeringkan,” jelas Rustam yang menyimpan kayu bakar di kolong rumahnya.
Sementara, Tuarti warga RT 3 Desa Tirta Jaya, Kecamatan Bajuin, membenarkan saat ini kesulitan mencukupi kebutuhan gas 3 kg untuk berjualan gorengan,
Tuarti mengaku satu hari ia menghabiskan sampai 2 tabung. Sementara jatah di pangkalan hanya dua tabung. Sedang setiap hari menghabiskan sampai 2 tabung.
“Jadi sisanya terpaksa membeli di luar pangkalan, bahkan sampai ke Kota Pelaihari,” ucap Tuarti.
Tuarti mengaku tidak jarang terpaksa tidak berjualan, karena tidak memperoleh gas.
Masih adanya warung yang mengecer gas 3 Kg di luar pangkalan, menjadi pertanyaan warga. Mengingat Pemkab Tala melarang penjualan LPG 3 Kg di luar pangkalan.
Bahkan beberapa waktu lalu, ada pemilik pangkalan yang diajukan ke Pengadilan Negeri Tala dan dijatuhi denda puluhan juta hingga belasan juta rupiah. (zkl/foto: zul yunus)