PELAIHARI, banuapost.co.id– Seorang pedagang eceran sembako di Kabupaten Tanah Laut, memaksakan diri membeli minyak goreng premium di Alfamart untuk dijual kembali di kios miliknya di kawasan pasar tradisional Manuntung Berseri, Pelaihari.
Pedagang itu membeli minyak goreng premium seharga Rp 52.000 sebanyak dua bungkus dengan maksud untuk dijualnya lagi dengan keuntungan Rp 2.000 sampai Rp 3.000 per dua liter.
Alfiah mengaku membeli minyak goreng premium karena sering pembeli mencari. Sementara di kiosnya hanya ada minyak goreng jenis lain seperti yang kualitasnya di bawah minyak goreng premium.
Namun sampai hari kedua sejak dibeli minyak goreng premium itu, tidak juga ada yang membeli. Menurut Alfiah setelah disebut harganya, pembeli langsung pergi tanpa menawar.
“Saya membeli minyak goreng premium karena sering ditanya pembeli,” kata Alfiah saat dikonfirmasi, Kamis (24/3).
Menurut Alfiah, ia dan pedagang sembako lainnya sampai saat ini belum mendapatkan suplai minyak goreng premium dari sales. Sementara minyak goreng yang beredar di pedagang saat ini, hanya beberapa merek dengan kualitasnya tidak sebaik minyak goreng premium.
Selain belum ada suplai minyak goreng premium, pedagang di pasar tradisional Manuntung Berseri juga dihadapkan dengan menghilangnya minyak goreng curah. Minyak goreng bersubsidi itu terakhir dijual pedagang Rp18.000 per liter dari HET Rp14.000.
Menghilangnya minyak goreng curah ini, dibenarkan Hair pedagang sembako lainnya. Menurut Hair, sudah sekitar tiga hari minyak goreng curah menghilang dari pasaran.
“Saya saat ini hanya menjual dua merek minyak goreng saja, tapi bukan yang premium. Karena sampai saat ini suplai dari sales belum ada,” kata Hair.
Hair berharap, pemerintah dapat menstabilkan harga minyak goreng. Sehingga pedagang dan pembeli tidak merasa dirugikan.
Sementara suplai dan harga minyak goreng belum stabil, beberapa pedagang di pasar tradisional Kota Pelaihari dan sekitarnya, memilih tidak menjual minyak goreng. Selain memperbesar modal usaha. mereka takut saat dibeli dalam jumlah banyak tiba-tiba harga anjlok. (zkl/foto: zul yunus)