BANJARMASIN– Korban bencana gempa bumi dan tsunami Kota Palu, Kabupatan Donggala dan Sigi, Sulawesi Tengah, yang mengungsi ke Banjarmasin, bertambah.
Kondisi demikian tak urung menggugah Walikota Banjarmasin, Ibnu Sina, mengimbau masyarakat yang sedang mengumpulkan bantuan bisa menyalurkannya langsung ke para pengungsi ini.
“Bantuan yang sudah terkumpul, bisa dikirim ke lokasi bencana. Bisa juga disalurkan ke para pengungsi yang ada di sini. Semoga bisa mengurangi beban para pengungsi,” kata Ibnu Sina saat mengunjung satu keluarga besar pengungsi yang menempati bangunan bekas PAUD di Jl Cempaka XII, Kelurahan Mawar, Banjarmasin Tengah, Senin (15/10) siang.
Menurut Ibnu Sina, pengungsi yang menempati bangunan bekas PAUD di Jl Cempaka XII, terdiri dari tiga kepala keluarga dengan sembilan jiwa. Sedangkan yang di Komplek Rajawali, Jl Sutoyo S, ada empat kepala keluarga.
Pengungsi di Jl Cempaka XII, merupaka satu keluarga besar, yakni suami istri, Ilyas Chaniago (58) dan Ny Suwarna Tanjung (56). Keduanya sudah 30 tahun merantau ke Kota Palu dari Sumatera Barat.
Selain pasangan suami istri ini, ikut mengungsi anaknya ,Tria Suci (33) bersama suaminya, M Syahrudin (39), beserta dua anak mereka, Alparo (10) dan Resky (7).
Kemudian, Syaiful Hendra (31) dan istrinya, Hajra Rasmita Ngembah (29), serta anak mereka, Sarah Putri Tanjung yang baru berusia satu tahun enam bulan.
Sedang untuk anak- anak yang ikut mengungsi, Ibnu Sina memastikan mereka bisa bersekolah sesuai jenjang pendidikannya. Seperti dua anak usia sekolah yang ikut orangtuanya, Alparo yang duduk di bangku kelas IV SD, dan adiknya Resky yang duduk di kelas I SD. Keduanya, kini bersekolah di SDN Mawar 7.
Dikunjungi Ibnu Sina, seorang pengungsi, Suwarna Tanjung, mengungkapkan banyak terima kasih. Karena mendapat perhatian dari walikota, serta warga Banjarmasin sejak mereka mengungsi Kamis (4/10) sekitar dua pekan lalu.
Meski sudah lebih dua pekan keluar dari lokasi bencana, perempuan ini mengaku masih merasakan trauma. Tak jarang ia meneteskan air mata setiap kali menceritakan peristiwa yang dialaminya bersama keluarga.
Menurut Suwarna yang bermukim di kawasan Palupi, Palu Selatan, ia hanya mengalami gempa. Berbeda denan korban lainnya, yang juga mengalami tsunami atau likuifaksi.
Namun selama 30 tahun merantau di Palu, menurutnya, kali ini merupakan gempa terdahsyat. “Kami seraing merasakan gempa di Palu, tapi tidak seperti sekarang. Kali ini guncangannya tidak hanya ke kiri dan ke kanan, tapi ke atas dan ke bawah. Jadi seperti diblender,” jelasnya.
Kesedihan lainnya, dirasakan Suwarna kala mengingat keluarganya yang lain, yang tidak selamat dari bencana pada Jumat (28/9) lalu itu. Sedikitnya ada 12 keluarganya yang meninggal dunia dan dinyatakan hilang.
Bahkan,ada satu keluarganya yang mengalami likuifaksi terjepit di antara lubang lumpur bercampur puing- puing. “Hanya kepala dan setengah badannya yang terlihat. Saat itu ia masih hidup, tapi sulit untuk ditolong. Jadi harus disuapi untuk makan. Sampai akhirnya meninggal dunia,” kata Suwarna.
Suwarna mengaku belum tahu pasti sampai kapan ia bertahan di pengungsian di Banjarmasin. Apalagi dari informasi yang ia terima dari kerabatnya yang masih bertahan di Palu, masih sering terjadi gempa susulan. (emy/foto: deny yunus)