Meski
telah tiada, Kartini sosok yang hidup. Setiap
tahun ia selalu dikenang. Perjuangannya
menyuarakan kebebasan dan pendidikan atas
kaumnya, kembali membahana. Namun
tak pernah terdengar dia diberi gelar sebagai Ibu
Bangsa.
Hari kelahirannya, 21 April, selalu diperingati kaumnya. Beragam acara diadakan. Namun seberapa jauh mereka mengenal wanita asal Jepara, Jawa Tengah ini?
Karya besarnya,
‘Habis Gelap Terbitlah Terang’, juga populer. Namun lagi-lagi, tidak
demikian halnya dengan buah pikirannya. Tak banyak yang mengetahuinya. Padahal
makna peringatan Kartini bisa dipahami dengan mengetahui buah pikirannya dalam
karyanya itu.
Banyak anak bangsa, khususnya
kaum wanita, hanya pernah mendengar tentang buku kumpulan
suratnya itu. Jadi mafhum lah kalau tidak mengenal Kartini dalam
arti sesungguhnya. Mereka
hanya mengetahui nama dan tanggal lahirnya, 21 April, dan menperingatinya. Membuat acara perlombaan dan menyanyikan lagu ‘Ibu Kita
Kartini’.
Di zamannya, dia adalah
perempuan cerdas, kritis, dan bertanggung jawab. Kartini sangat peduli dengan
perempuan dan pendidikan. Dalam
suratnya, 21 Januari 1901, ia menulis; “Dari perempuanlah
manusia itu pertama-tama menerima pendidikan. Di pangkuan perempuanlah
seseorang mulai belajar merasa, berfikir, dan berkata-kata. Dan bagaimanakah Ibu-ibu
Bumiputera dapat mendidik anak-anaknya, kalau mereka sendiri tidak
berpendidikan? Surat ini menegaskan betapa gairah
Kartini untuk belajar.
Kartini juga
tidak
membeda-bedakan derajat manusia. Sikap ini tentunya bertentangan dengan adat
pada waktu itu. Dia sangat
risih dengan tradisinya sendiri. Kartini menggugat tradisi Jawa yang
cenderung feodalistik. Bawahan
dan atasan bagaikan hamba dengan Tuhan.
Begitu juga dengan perempuan yang selalu
diposisikan lebih rendah dari kaum Adam. Ketika timbul perlawanan, tak jarang
tindakan fisik sebagai hukuman pun dilakukan. Terkesan manusia diperlakukan
layaknya hewan. Sungguh tidak manusiawi (surat Kartini 18-8-1899).
Kartini juga
seorang taat beragama. Namun demikian tak segan ia mengkritik perilaku agama
yang baginya menyimpang. Ia lantang menggugat metode pengajaran agama yang
dilakukan pada waktu itu,
cenderung formalistik sebatas membaca. Sedang maknanya, sama sekali tidak
diajarkan.
Begitupun dengan fenomena
keberagamaan yang cenderung menimbulkan kekerasan, Kartini membayangkan alangkah baiknya seandainya
tidak ada agama. Sebab,
agama yang seharusnya mempersatukan umat manusia, justru sejak berabad-abad menjadi pangkal
perselisihan dan perpecahan. Pangkal pertumpahan darah yang sangat mengerikan
(6-11-1899).
Termasuk dalam hal poligami yang sepertinya
dilegalkan oleh teks otoritatif agama. Meski ditegaskan beribu kali oleh
para penyokongnya, poligami bukanlah perbuatan dosa, Kartini tetap menganggapnya
dosa.
Sebab poligami kerap menistakan perempuan.
Poligami adalah kekerasan terhadap perempuan. Baginya, perbuatan yang
menyebabkan semua manusia menderita adalah dosa. Dosa ialah menyakiti makhluk
lain, baik manusia atau binatang
(6-11-1899).
Tak usang
Demikian teguhnya perlawanan yang dilakukan Kartini demi
meraih seteguk kebebasan,
meski dikeroyok kaum agamawan maupun adat, ia
tak menyerah. Cita dan angannya yang besar membuatnya tetap tegar mendakwahkan
kemerdekaan kaum perempuan.
Meski akhirnya tak kuasa menolak
dipoligamikan, ia
tak patah arang. Kegetirannya itu malah kian memicunya untuk membebaskan perempuan
dari belenggu adat, agama dan kebodohan. Sehingga ia berhasil mendirikan
Sekolah Wanita di Semarang, Surabaya, Yogyakarta, Malang, Madiun, Cirebon, dan
daerah lainnya. Nama sekolah tersebut adalah ‘Sekolah Kartini’.
Membaca Kartini, sejatinya bagai membaca roman yang hidup.
Banyak hal bisa ditemukan dan direnungkan di situ. Mulai dari adat, etika,
pendidikan, pandangan hidup, agama dan sebagainya. Surat-suratnya begitu
menyentuh. Ada api perjuangan yang berkobar.
Ada kisah yang pahit, pilihan hidup yang sulit yang
dihadapi Kartini.
Tentunya kita bisa berkaca dari kisah
dramatik ini. Meski ia telah pergi sekitar seratusan tahun silam lalu, makna
perjuangan Kartini tak pernah usang. Selalu ada makna yang bisa dipetik dari kisahnya.
Namun semua itu akan sia-sia ketika Kartini
tetap hanya dimitoskan. Karena itu selayaknya
kita kembali memposisikan Kartini
sebagai manusia biasa yang yang tak lepas dari kekurangan dan kelebihannya, yang mengalami suka duka
memegang teguh semangat dan idealisme cita-citanya.
Dengan itu maka apa yang dilakukan Kartini
menjadi sesuatu yang niscaya. Bukan lagi mitos yang sangat mungkin dilakukan
‘Kartini-Kartini’ generasi sekarang. Sehingga kemajuan kaum perempuan, sebagaimana dibayangkan
Kartini, bukan lagi mimpi belaka. Selamat Hari Kartini. (yebe/aktivis media)
