JAKARTA, banuapost.co.id–
Indonesia merdeka tidak terlepas dari kepeloporan perjuangan para pendiri
bangsa, yang selalu mengutamakan persatuan dan kesatuan bangsa.
Namun beberapa dekade terakhir dengan menguatnya politik
identitas, menandakan jatidiri bangsa mulai menurun. Padahal sebagai sebuah bangsa, harus mencerminkam
budaya nasional dan budaya ke Indonesiaan yang kuat.
“Pada pesta-pesta demokrasi kita belakangan ini, benturan
horizontal antar anak bangsa, khususnya argumentasi-argumentasi di ruang publik,
sudah banyak meninggalkan adat bangsa Indonesia, budaya ketimuran yang beradab,”
ujar Dr Harjono, mantan Hakim Mahkamah Konstitusi selama 2 periode (2003-2008,
2009-2014).
Dr Haryono mengungkapkan hal itu dalam Diskusi Kebangsaan
di acara halalbihalal dan Haul Bung Karno yang diselenggarakan Dewan Pimpinan
Nasional (DPN) Keluarga Besar Marhaenis (KBM) di sebuah restaurant di bilangan
Jakarta Timur, Minggu (7/7).
Namun syukurlah, lanjut Ketua Dewan Kehormatan
Penyelenggara Pemilu (DKPP) yang juga anggota Dewan Ideologi DPN KBM, Indonesia
masih memiliki Pancasila yang di gali dari bumi Indonesia oleh Bung Karno.
Menurut Dr Haryono, ada dua arus besar Ideologi
transnasional yang menjadi ancaman nyata NKRI. Yaitu ekstrimisme kanan yang
sering disebut radikalisme yang menghamba pada ISIS, dan liberalisme dengan
kebebasan yang sebebas-bebasnya.
Karena kondisi demikian, Dr Haryono mengimbau segenap
elemen bangsa melawan segala bentuk ideologi yang tidak sesuai dengan
kepribadian bangsa Indonesia dengan semangat persatuan dan kesatuan, serta
persaudaraan segenap anak bangsa.
Bumikan
Pancasila
Sementara Gus Sholeh MZ dalam tausyiahnya menegaskan,
dengan menguatnya politik identitas belakangan ini, sangat mengkhawatirkan. Karena
membahayakan keutuhan NKRI.
Dibubarkannya HTI, menurut Gus Sholeh, tidak
menyelesaikan masalah. Karena tidak diikuti oleh keputusan pemerintah untuk
melarang pentolan-pentolannya mendirikan organisasi lain.
“Sekarang ini mereka sudah menyebar ke berbagai
organisasi lain, yang bertujuan sama dengan HTI,” jelasnya.
Karena itu, sambung Gus Sholeh, pentingnya membumikan
Pancasila untuk diajarkan di dunia pendidikan dan pegawai-pegawai pemerintah dengan
penanaman mental melalui Pemahaman Pancasila. (*/yb/foto: ist)
