PELAIHARI, banuapost.co.id–
Usia senja bagi semua orang tidaklah sama. Ada yang menghabiskan dengan tenang
dekat anak dan kerabat, ada juga yang
sebatangkara atau numpang di tempat keluarga.
Kondisi demikianlah kini tengah dialami nenek Juminten,
yang saat ini menghabiskan hari tuanya dengan derita dan menumpang di rumah
keponakan.
Wanita berusia sekitar 80 tahun itu, tinggal di rumah
Arbayah, keponakannya, atau anak dari adiknya. Sementara anak-anak Juminten,
sudah meninggal dunia.
Selain sudah renta, tubuh bagian punggung nenek Juminten,
penuh dengan koreng akibat penyakit kulit.
Wanita asal Barabai, Hulu Sungai Tengah itu, kini tinggal di salah satu bilik di samping rumah Arbayah, keponakannya, dan kamar itu tengah diperbaiki relawan dan anggota Jaringan Pendamping Kebijakan Pembangunan (JPKP) Tala.
Nenek Juminten yang tinggal di RT 7, belakang pasar PTPN
13 itu, sebelumnya memiliki rumah dekat dengan rumah Arbayah. Namun karena
butuh uang untuk mengobati matanya, nenek Juminten terpaksa menjual rumah
tersebut kepada salah seorang warga setempat.
“Rumah tante saya dijual untuk keperluan berobat, sekitar
tahun 2000 an,” kata Arbayah sambal menunjuk rumah kayu yang dibiarkan kosong
oleh pembelinya.
Meski sudah hampir belasan tahun hidup seorang diri
dengan segala kemiskinanannya, nenek Juminten ternyata tidak pernah tersentuh
program sosial. Ia sempat beberapa kali mendapat beras sejahtera, atau dahulu
disebut raskin. Sekarang tidak pernah lagi.
Karena kondisi keuangan keluarga Arbayah juga tidak
begitu bagus, kebutuhan sehari-hari nenek Juminten tergantung belas kasihan
tetangga. Terkadang ada donator yang datang membantu.
“Saat ini kami dan para relawan di Tanah Laut tengah
membuatkan kamar untuk nenek tidur dan beraktivitas,” kata M Noor, salah
seorang penggiat sosial di Tala. (zkl/foto: zul yunus)
