BANJARMASIN, banuapost.co.id–
Keterlambatan 53 caloh haji plus berangkat ke tanah suci tahun ini, menjadi
pelajaran bagi manajemen PT Travellindo Grup.
Setelah puluhan calon haji plus bisa diberangkatan ke
tanah suci, Selasa (6/8) lalu, perusahaan penyedia jasa layanan haji dan umroh
tersebut, mengevaluasi manajemen mereka.
Hasil evaluasi, perusahaan memutuskan merombak manajemen.
Direktur PT Travellindo Grup yang sebelumnya dijabat Agus, kini diserahkan kepada Adista
Ladikrismeru.
Diakui Penanggung Jawab PT Travellindo Grup, Supriadi,
direktur yang baru tersebut, merupakan anak kandungnya yang baru menyelesaikan
pendidikan di Amerika Serikat. Meski masih muda, namun Surpiadi optimis,
direktur yang baru ini mampu membenahi manajemen Travellindo.
Optimisme ini, menurut Supriadi, juga karena masuknya dua
manajer operasional yang baru. Pertama Manajer Operasional PT Travellindo Tours
& Travel, Sutopo Nursani yang sebelumnya sudah puluhan tahun berpengalaman
di perusahaan telekomunikasi.
Kemudian, Manajer Operasional PT BMW, salah satu anak
perusahaan PT Travellindo, Gusty Nadya Purwanti yang berpengalaman di dunia
perbankan.
Manajemen baru ini, menurut Supriadi, ditarget
mengembalikan kepercayaan masyarakat. Serta menjadikan Travellindo sebagai
market leader seperti diawal kehadiran mereka sebagai perusahaan jasa layanan
haji dan umroh di Kalsel.
“Dulu, sebagai market leader, kami banyak ditiru
competitor. Ke depan, dengan perbaikan manajemen ini, kami ingin kembali
seperti dulu lagi,” tandas Supriadi.
Menurut Supriadi, upaya membenahi manajemen ini, karena
keinginannya untuk terus membantu umat yang ingin beribadah ke tanah suci. Baik
umroh maupun haji.
Khususnya mereka yang menginginkan ibadah umroh dan haji dengan biaya terjangkau dan layanan maksimal, seperti yang selama ini mereka lakukan.
Terlambat, dapat uang pengganti
Mendapat kepercayaan membenahi manajemen perusahaan yang
dibangun ayahnya, Adista Ladikrismeru mengaku sudah menyiapkan sejumlah langkah-langkah.
“Ke depan, bila masih ada keterlambatan keberangkatan,
maka calon jemaah akan mendapat uang pengganti. Berupa uang saku sebanyak Rp 2
juta untuk keterlambatan satu minggu,” kata Adista.
Meski menjanjikan uang saku bila masih terjadi
keterlambatan, namun Adista optimis ke depan hal tersebut tidak akan terjadi.
Berkaca dari kisruh keterlambatan calon haji plus di ibadaha haji tahun ini,
menurut Adista, manajemen mulai meminimalisir berspekulasi dengan tiket promo.
“Ke depan, kita tetap akan menggunakan tiket promo. Namun
jumlahnya akan dikurangi, karena cukup beresiko dalam manajemen waktunya.
Nantinya, kami lebih banyak menggunakan tiket regular, sehingga waktu keberangkatannya
lebih pasti,” ujar Adista. (emy/foto:
iman)
