SAMPIT, banuapost.co.id– Kabut asap yang menerjang daerah Kabupaten Kotim, akibat
kebakaran hutan dan lahan (karhutla), Jumat (6/9) pagi, menyebabkan jarak
pandang terbatas 5 – 10 meter.
Sebelumnya, Kamis (5/9), Pemkab Kotim
bersama Dinas Kesehatan setempat, membagikan masker kepada sejumlah sekolah sebagai
bentuk antisipasi dari sasaran penyakit akibat kabut asap tersebut.
Kabut asap mulai menyelimuti Kota
Sampit dan sekitarnya, kisaran pukul 05:00 WIB. Karena tak ada hembusan angin, sehingga
kabut asap kian menebal.
Menurut Anto, warga Sampit, kabut
asap yang tebal terlihat usai Salat Subuh. Sebelumnya tak terlalu parah. Begitu
memasuki sekitar pukul 06:00 WIB, kabut menebal hingga membuat jarak pandang
terbatas.
“Kita sempat berhenti naik kendaraan takut tabrakan, akibat jarak pandang yang sangat terbatas,” ujarnya kepada banuapost.co.id.
Hal senada juga dikemukakan Samsul. Kabut
asap semakin tebal akibat tak ada hembusan angin dan kian hari makin menebal.
“Beberapa hari sebelumnya biasa aja.
Namun pagi ini, kabut asapnya sangat tebal hingga mengganggu penglihatan,”
katanya.
Uniknya meski kabut asal kian pekat,
banyak netijen yang mengambil momen di wilayahnya
masing-masing untuk diposting.
“Bisa Anda saksikan pagi ini asap
tebal. Mohon para pengendara berhati-hati, karena jarak pandang hanya lima
sampai enam meter,” ujar Tuwi Smd melalui postingan siaran langsung diakun
facebooknya.
Kebakaran lahan yang terus terjadi
di wilayah Kotim menyebabkan asapnya semakin pekat. Sehingga mengganggu aktivitas
masyarakat dan penerbangan.
Kepala Badan Mateorologi Klimatologi
dan Giofisika (BMKG) Bandara H Asan, Sampit, kepada sejumlah awak media
menjelaskan, kebakaran lahan hingga Jumat (6/9) pagi, terpantau sebanyak 347 titik.
“Kemaren sore masih tercatat hampir
300 titik. Sementara jarak pandang sekitar bandara Haji Asan, hanya 50
meter,” ujar Nur Setiawan. (urd/foto:
ist)
