Begitu pentingnya
sosok pemimpin dalam sebuah kelompok, menjadikannya harus dilindungi sekuat
tenaga. Hal demikian lumrah, dimanapun
dalam berbagai budaya.
Tipikal kepemimpinan kuno yang peradabannya
rendah, pemimpin selalu seperti dewa. Rakyat dijadikan objek bagi peningkatan
kesejahteraan pemimpin. Padahal logika kepemimpinan, membawa kehidupan
rakyatnya menuju ke kesejahteraan.
Kepemimpinan pada dasarnya merupakan hubungan
dengan sebuah pola. Hubungan antara individu-individu yang menggunakan wewenang
dan pengaruhnya terhadap kelompok orang, agar bekerja bersama-sama untuk
mencapai tujuan.
Jujur,
tegas dan kuat
2020 ini, suhu politik di Kalimantan Selatan
akan terasa panas. Duet kepemimpinan H Sahbirin Noor dan Rudy Resnawan berakhir.
Partai Golkar kembali mengusung sang ketua untuk maju kedua kali.
Sementara tokoh partai lainnya, banyak pula
yang siap menjadi wakil mendampingi. Bahkan jauh-jauh hari, meski dengan
malu-malu kucing, sudah ada yang mewakafkan
diri.
Karena itu bila tak cerdas memilih, bisa
membuat rakyat di provinsi tertua di Pulau Kalimantan ini terperosok dalam
kesengsaraan. Kriteria pemimpin yang ideal harus menjadi tolak ukur dalam
memilih.
Pemimpin yang jujur, kuat dan tegas, merupakan
salah satu alternatif untuk bisa menyelamatkan Kalsel. Sikap tegas dan kuat dari pemimpin, merupakan
salah satu cara agar kembali memiliki
posisi tawar tinggi.
Begitupun dengan mensejahterakan rakyat
Kalsel, bukanlah perkara mudah. Tak seperti membalikkan telapak tangan. Perlu
proses panjang, tentunya di tangan orang yang tangguh dan memang cinta dengan
rakyat Kalsel.
Terlebih lagi, langkah perbaikan untuk bisa
keluar dari lingkaran setan bernama kemiskinan, merupakan kewajiban utama dari
siapapun yang menjadi pemimpin nanti.
Belum lagi tugas-tugas berat lainnya yang
perlu dilakukan sang pemimpin. Menyediakan lapangan pekerjaan untuk menekan
angka pengangguran, serta masih banyak lagi pekerjaan yang perlu dibenahi.
Sosok baru atau wajah
lama, sudah tak penting lagi saat ini. Bagi rakyat Kalsel yang terpenting, sosok
yang jujur, cerdas, tegas dan kuat. Namun jauh lebih penting lagi, membawa Kalsel
maju sejahtera. Bukan sejahtera dalam mimpi.
Jika melihat dua calon
yang sudah mendeklarasikan diri ingin menjadi
pendamping Paman Birin dalam
kontestasi Pilkada Kalsel 2020, Gusti Iskandar maupun Rosehan NB, lima tahun ke
depan sang petahana bisa jadi bukan tambah nyaman.
Bagaimana tidak. Dua
calon ini sama sekali belum teruji kehandalannya di bidang birokrasi. Mereka
lebih banyak berkutat di partai masing-masing dan bukan sebagai pengambil
kebijakan. Padahal sebagai wakil gubenur, tugas utamanya lebih pada internal di
lingkup Pemrpov Kalsel itu sendiri,
Gusti Iskandar,
misalnya, tidak begitu familiar namanya sampai ke pelosok. Ketua Palang Merah
Indonesia (PMI) Kalsel dan Persatuan Olahraga Panahan Indonesia (Perpani)
Kalsel itu, muncul ketika hanya ada helat besar.
Lalu apa yang bisa
diharapkan. Karena organisasi yang dipimpinnya pun birokrasinya tak serumit birokrasi
pemerintahan yang penuh dengan berbagai aturan.
Begitu pula dengan Rosehan
yang pernah satu periode sebagai Wakil Gubernur Kalsel mendampingi Rudy
Ariffin, justru tak terlihat gregetnya dalam pembenahan ASN dan PNS ketika itu.
Mantan Ketua PKB yang
loncat ke PDIP Kalsel, sebelumnya juga pernah bacalon Gubernur Kalsel, termasuk
menantang Paman Birin di 2014 lalu. Namun cuma jadi dalam mimpi.
Sementara untuk parpol,
jangan asal main usung meski kadernya sekalipun. Jangan seperti memilih kucing
dalam karung. Tapi harus berkomiten bagaimana rakyat Kalsel ke depan maju dan
sejahtera. Bukankah mensejahterakan rakyat juga jadi tanggungjawab utama setiap
parpol untuk mewujudkannya.
Lalu siapa yang pantas
mendampingi Paman Birin di kedua periodenya ini? Di antara tokoh-tokoh di
Kalsel, sang Sekdaprov, Abdul Haris Makkie, merupakan orang yang selama ini
memiliki peran penting lancar dan nyamannya kerja gubernur dalam lima tahun
terakhir.
Sebagai seorang birokrat
tulen, Ketua Pengurus Wilayah Nahdlatul Ulama (PWNU) Kalsel itu, selain punya
basis massa kaum nahdliyin, pengabdiannya pun sebagai PNS tak perlu diragukan
lagi. Bahkan tak pernah terdengar neko-neko. Sementara utuk karier, berbagai
jenjang hingga kehumasan pun pernah dijabatnya.
Memang untuk saat ini,
nama Abdul Haris Makkie belum terdengar mendeklarasikan siap mendampingi Paman
Birin. Selain hanya mendaftarkan diri ancang-ancang berebut kursi Banjarmasin 1
melalui PDI-P Kalsel, belum lama ini.
Tapi tokh tak ada
salahnya sang birokrat juga melamar melalui partai yang ada, Golkar dan PDI-P
atau partai lainnya yang berkoalisi, seperti PPP, PKB atau NasDem.
Se kelas Joko Widodo
saja tak memandang sebelah mata seorang KH Mar’uf Amin yang notabene kaum nahdliyin
untuk mendampinginya 2019 – 2024. Kenapa Paman Birin tidak!
Tak salahnya jugakan
agar amanah rakyat Kalsel yang diemban jadi mudah dan nyaman. Terlebih lagi di
lima tahun ke depan untuk mengabadikan ikon Sang Pembeda harus terwujud. Bukan diakhir
tugas dihadiahi sumpah serapah rakyat. (yebe/aktivis
media)
