SURABAYA, banuapost.co.id– Puluhan santri asal Banua, terlantar di Bandara Juanda, menyusul pembatasan frekuensi penerbangan yang diberlakukan Pemprov Kalsel di Bandara Syamsudin Noor.
Dari 34 santri yang mengikuti pendidikan di Ponpes Lirboyo Kediri, Jatim, hanya 12 orang yang dapat pulang dengan penerbangan Maskapai Citilink, Minggu (5/4) pagi.
“Selebihnya, rencananya diberangkatkan esok, Senin (6/4),” ujar Ady, salah satu orangtua santri, melalui pesan WhatsApps ke redaksi banuapost.co.id.
Seperti diketahui, untuk mengantisipasi pageblug Covid-19, Ponpes Lirboyo Kediri Jawa Timur memulangkan santrinya ke daerahnya masing-masing, terkecuali daerah berzona merah terpapar virus asal Provinsi Wuhan, Tiongkok, yang mematikan itu.
Karena dipulangkan, santri asal Provinsi Kalsel sudah sejak lima hari lalu memesan tiket dengan Maskapai Citilink, booking tiket keluar (terlampir) keberangkatan 5 April 2020 pagi pukul 06.00 dan 10:35 WIB.
Namun yang jam 10:35 WIB (D1336E) tidak diberangkatkan karena pembatasan yang diberlakukan Pemprov Kalsel hanya untuk satu kali bagi semua jenis maskapai penerbangan.
Tertundanya keberangkatan sebagian santri ini, sempat membuat ketua rombongan, Alimun, kaget. “Sempat saya urus ke maskapainya. Jawaban mereka cuma ada dua opsi. Dibatalkan (cancel) atau menunggu (delay). Cuma 12 orang yang bisa berangkat hari ini, Minggu (5/4) siang pukul 14.00 WIB. Sisanya terpaksa esok,” imbuh Alimun.
Memang terkesan aneh dengan kebijakan maskapai Citilink ini. Pasalnya, kode booking tiket dikeluarkan. Namun setelah para penumpang berada di bandara, baru ada perubahan.
Bagi mereka yang punya keluarga di Surabaya, mungkin tidak jadi masalah. Karena hanya cukup mengeluarkan ongkos transport angkutan. Aman deh.
Nah bagi mereka yang sama sekali tidak memiliki. Bandara Juanda lah jadi tempat tinggal sementara untuk beberpa jam ke depan menunggu diberangkatkan, sesuai dengan janji. Jadi terlantar deh..! (yb/*/foto: ist)