BANJARBARU, banuapost.co.id– Penyerang Mapolsek Daha Selatan, Kabupaten Hulu Sungai Selatan, diduga tidak sendiri dalam merencanakan aksinya. Saat ini polisi memeriksa beberapa orang yang diduga ikut membantu.
“Ada beberapa rekan dari pelaku yang kini diperiksa. Dari keterangan kepada polisi, mereka mengarah memberikan perbantuan. Memang saat melancarkan aksinya, pelaku sendiri,” kata Kepala Badan Nasional Penanggulangan Terorisme (BNPT), Komjen Pol Boy Rafli Amar.
Pati Polri bintang tiga itu mengemukakan hal tersebut menjawab awak media di ruang VIP Room Bandara Syamsudin Noor, Sabtu (6/6) sore.
Pelaku yang masih berusia 20 tahun, sambung Komjen Pol Boy Rafli Amar, merupakan salah satu contoh kasus kaum milenial salah dalam memahami ajaran Islam.
“Perbuatan pelaku ini merupakan aksi terorisme. Di Indonesia dan juga di banyak negara lainnya, aksi terorisme ini merupakan kejahatan extra ordinary dan kejahatan yang sangat serius,” tegasnya.
Dalam rangka perlindungan kepada masyarakat Indonesia, lanjut Boy Rafli, BNPT mengajak para ulama seluruh Indonesia, termasuk di Kalsel, untuk meluruskan pemikiran yang tidak mencerminkan ajaran Islam yang Rahmatan Lil’alamin.
“Alhamdulillah, para ulama kita siap memberikan dukungan. Memberikan pemahaman terhadap hal-hal yang tidak membahayakan anak-anak muda kita. Apalagi tindakan yang dilarang itu mengatasnamakan agama. Seolah-olah tindakan bagian dari perjuangan menegakan agama,” ujarnya.
Boy Rafli bersama rombongan sebelumnya berkunjung ke Mapolsek Daha Selatan yang diserang pelaku teror. Usai berkunjung, dia menemui keluarga korban.
Bahkan Boy Rafli menyempatkan bertemu dengan sejumlah ulama di Kalimantan Selatan. Dalam pertemuan tersebut, Boy Rafli mengajak para ulama untuk mencegah kembalinya aksi terorisme, seperti di Mapolsek Daha Selatan.
Dalam pertemuan dengan para ulama, Boy Rafly di dampingi Kapolda Kalsel, Irjen Pol Nico Afinta, serta Sekdaprov Abdul Haris Makkie.
Semua pihak
Sementara Wakil Ketua MUI Kalsel, Prof Abdul Hafiz Anshari, mengatakan, pencegahan terhadap aksi terorisme tidak bisa hanya dilakukan semua pihak. Tetapi harus melibatkan semua pihak, termasuk tokoh agama atau ulama.
“Apalagi aksi teror yang bersumber dari kesalahan memahami ajaran agama Islam. Maka kami para ulama, punya tanggung jawab untuk meluruskannya,” kata Hafiz Anshari yang turut hadir dalam pertemuan dengan Boy Rafli.
Menurut Hafiz Anshari, berikutnya akan ada pertemuan lagi dalam menentukan langkah mencegah aksi terorisme, khususnya di kalangan anak muda.
“Peristiwa ini menandakan Kalsel tidak aman dari aksi terorisme. Apalagi aksi ini dilakukan anak muda. Karena itu, kita perlu menyusun langkah-langkah agar peristiwa ini tidak terjadi lagi.
Seperti diberitakan, Mapolsek Daha Selatan diserang pelaku teror, Senin (1/6) dinihari. Dalam aksi penyerangan itu, anggota yang sedang piket, Bripka (Anumerta) Leo Nardo Latupapua, gugur.
Sedang pelakunya yang menggunakan samurai, Abdurahman (20), juga tewas setelah dihadiahi timah panas. (emy/foto: deny yunus)