SAMPIT, banuapost.co.id– Memperingati Detik-detik Proklamasi sebagai hari paling bersejarah dalam perjalanan NKRI, banyak cara dilakukan anak bangsanya sebagai wujud suka cita.
Seperti di Desa Muara Urie, Kecamatan Hampang, Kotabaru, warganya menggelar di kaki Pegunungan Meratus. Pegunungan yang membentang dari Provinsi Kalsel hingga Kaltim.
Di Kecamatan Mantewe, Tanah Bumbu, Kelompok Pencinta Alam (KPA) Ulin, mengibarkan Bendera Merah Putih raksasa di tebing Goa Liang Bangkai, salah satu obyek wisata unggulan di Bumi Bersujud.
Sementara Federasi Panjat Tebing Indonesia (FPTI) Tabalong, juga membentangkan Sang Saka Merah Putih di Tebing Ampik, Desa Gragata, Kecamatan Jaro.
Di Kertak Hanyar, Gambut, Kabupaten Banjar, Hotel Aston Banua mengibarkan Merah Putin sepanjang 100 dengan lebar 6,5 meter.
Sedang di Desa Rawasari, Kecamatan Pulau Hanaut, Sampit, Kabupaten Kowaringin Timur (Kotim), juga tak kalah unik. Lokasi yang diambil, pertengahan sawah tanpa ada tempat berteduh dari sengatan matahari.
“Jika 75 tahun silam para pejuang berkorban harta benda dan nyawa mengusir penjajah, sekarang kita sebagai generasi penerus mengisi kemerdekaan untuk kemajuan bangsa dan negara,” ujar Camat Pulau Hanaut, Ir H Eddy Mashami.
Menurut H Eddy, tidak digelarnya Peringatan Detik-detik Proklamasi ke-75 RI di tempat yang lazim, lebih untuk memupuk semangat juang serta motivasi bagi para petani agar hasil pertaniannya lebih melimpah lagi.
“Di tengah kondisi pandemi Covid-19 saat ini, hasil pertanian di semua desa Kecamatan Pulau Hanaut kurun 4 tahun, selalu surplus. Sehingga dapat membantu pemerintah daerah dalam program swasembada pangan,” jelas H Eddy.
Dengan sengaja digelarnya di tengah persawahan ini, lanjut Camat Eddy, sapaan akrabnya, tentu secara otomatis masyarakat melakukan gotong royong, baik jalan menuju lokasi acara, maupun melakukan pembersihan lingkungan sekitarnya.
“Pelaksanaan di tengah persawahan ini juga sangat membawa manfaat, sekaligus mengedukasi masyarakat petani untuk lebih mencintai NKRI,” imbuh H Eddy.
Dalam Peringatan Detik-detik Proklamasi Kemerdekaan ke-75 RI ini, bertindak Inspektur Upacara (Irup), Camat Pulau Hanaut, Ir H Eddy Mashami, Komandan Upacara, Dedy Agung Prasetia.
Sementara pesertanya dari kecamatan, para warga petani di desa setempat sekitar 85 orang. Mereka berpakaian petani memakai topi pelindung bersolek cat warna Merah Putih.
Begitupun ketika menaikan Merah Putih, tidak memakai tiang penggerek. Salah satu petani memegang tiang, dua lainnya mengikat di ujung batang bambu.
Setelah terikat, secara perlahan tiang bambu yang ujungnya terikat Bendera Merah Putih dibawa ke tengah lapangan upacara untuk ditempatkan di lubang yang sudah disediakan.
Ketika ujung bagian bawah bambu di arahkan ke lubang, peserta undangan maupun para petani serempak menyanyikan lagu Kebangsaan: Indonesia Raya. (um/foto: ist)