KOTABARU, banuapost.co.id– Sudah menjadi kebiasaan mantan orang nomor wahid di Pemrov Kalsel ini setiap lawatannya ke daerah-daerah, selalu menyempatkan diri mengunjungi pasar tradisional.
Tak hanya berbincang dengan para pedagang maupun pengunjung pasar, H Sahbirin Noor si mantan pejabat itu, biasanya juga membeli dagangan untuk dibagikan kepada masyarakat sekitar.
Pasar begitu melekat dalam diri Paman Birin, sapaan familiar ayah dari anak ini. Karena semasa kecilnya, sudah akrab dengan dunia pasar. Ibundanya salah seorang pedagang di Pasar Lima Banjarmasin.
Karena itu bagi kandidat Gubernur Kalsel dalam Pilkada 9 Desember mendatang, pasar tradisonal merupakan denyut nadi perekonomian rakyat. Oleh sebab itu, keberadaannya jangan sampai tergerus zaman.
“Dilihat dari sisi budaya, proses tawar menawar di pasar tradisional sejatinya bukan sekadar proses transaksi bisnis semata. Di dalamnya terkandung penghargaan tinggi akan sikap dan toleransi sesama manusia,’’ ujar pasangan hidup Acil Odah atau Hj Raudatul Jannah, saat berada di salah satu pasar tradisonal di Kabupaten Kotabaru, baru-baru tadi.
Menurut paslon nomor urut 01 ini, mesti ada upaya menginisiasi penyelamatan keberadaan pasar tradisional agar mampu bersaing dengan pasar modern dan semi modern yang kini mulai bermunculan.
Ke depan, pemerintah provinsi dan kabupaten/kota harus bekerja sama untuk menganggarkan skema bantuan program revitalisasi pasar tradisional.
“Pasar tradisional harus bersih. Jangan sampai volume sampah melebihi volume barang. Pasar tradisional harus sehat, semua barang yang diperdagangkan wajib higienis, tidak kedaluarsa dan tidak berbahaya bagi kesehatan konsumen,” ucapnya.
Selain itu, sambung Paman Birin, pasar tradisional juga dituntut mewujudkan ketertiban. Timbangan barang sesuai ukuran, tidak boleh dikurangi atau dilebihkan. Ini sesuai tuntunan agama Islam.
“Kemudian pasar tradisional harus mampu menjamin konsumen. Artinya dalam bertransaksi, konsumen harus dibuat nyaman dan aman. Keadilan juga wajib tercipta di pasar tradisional,’’ kata Paman Birin yang berciri khas pakai kupiah dan berselempang sarung di badan. (yb/*/foto: ist)