BARABAI, banuapost.co.id– Tim Gugus Tugas Percepatan Penanganan (TGTP2) Covid-19 Kalsel melakukan monitoring dan evaluasi di Kabupaten HST, Rabu (4/11).
Tim dipimpin Plt Gubernur Kalsel, H Rudy Resnawan, beserta Kapolda Kalsel, Irjen Pol Dr Nico Afinta, dan Danrem 101/Antasari, Brigjend TNI Firmansyah.
Kegiatan diawali kunjungan ke karantina khusus, Gedung eks Akper Murakata, dan dilanjutkan pertemuan dengan Bupati HST, HA Chairansyah, di Pendopo Kab HST.
Dalam kesempatan ini, HA Chairansyah menjelaskan penanganan pandemi virus korona, baik dalam penggunaan anggaran yang besumber dari APBD, maupun alokasi anggaran BTT serta RKB SKPD hingga triwulan IVV sebesar Rp 63 miliar.
Anggaran sebesar itu, untuk pencegahan Rp 47 miliar, dampak ekonomi Rp 7 miliar, dan anggaran dampak sosial Rp 9 miliar.
Menanggapi penjelasan bupati, H Rudy Resnawan menilai, sinergitas dan kolaborasi di HST berjalan dengan baik. Padahal tidak ada paksaan, karena sesuai tupoksi masing-masing instansi.
Meski demikian, Rudy mengaku prihatin dengan kasus kematian akibat Covid-19 di HST tertinggi dibandingkan dengan kabupaten/kota se Kalsel, dengan penanganan Covid-19 tidak jauh beda.
“Karena itu saya harap, Satgas Covid-19 HST terus melakukan pengendalian penularan. Jangan sampai semangat malah kendor,” katanya.
Sementara Kapolda Kalsel, Irjen Pol Dr Nico Afinta, mengapresiasi apa yang sudah dilaksanakan di Kabupaten HST, terutama dalam melakukan komunikasi, koordinasi dan kolaborasi. Sehingga terjalin kerja sama yang baik dalam mengatasi pandemi Covid-19.
Polda Kalsel, menurut Irjen Nico, sudah melaksanakan peningkatan kapasitas rumah sakit, rumah isolasi di SPN, kampung tangguh, operasi disiplin gabungan, pencegahan dan sosialisasi melalui komunitas, serta pendampingan untuk melakukan efisiensi anggaran.
“Bahkan saya usulkan juga ada lomba inovasi penanganan Covid di Kalsel,” ucapnya.
Sedang Danrem 101/Antasari, Brigjend TNI Firmansyah menekankan pentingnya sinergitas dan perubahan perilaku masyarakat dalam penanganan Covid.
“Kita sekarang melakukan perubahan perilaku masyarakat di era adaptasi kebiasaan baru agar masyarakat menerapkan protokol kesehatan,” jelasnya.
Protokol kesehatan, sambung danrem, sampai jadi kebutuhan di masyarakat, dan dapat merubah perilaku munuju langkah yang lebih baik. Karena ini langkah penting untuk memutus mata rantai penularan. (yb/*/foto: ist)