JAKARTA, banuapost.co.id– Menguatkan industri pertahanan dalam negeri, salah satu caranya memenuhi ketersediaan alutsista nasional, sebagaimana UU No: 16/2012 tentang Industri Pertahanan.
Ini mengingat UU tersebut dibentuk untuk mewujudkan ketersediaan alutsista dan keamanan secara mandiri, termasuk memajukan keunggulan sumber daya manusianya.
“Industri pertahanan menjadi salah satu ujung tombak dalam mengembangkan sistem pertahanan secara mandiri,” tegas Ketua DPR RI, Puan Maharani, ketika memberikan kuliah umum dan pembekalan kepada Perwira Siswa (Pasis) Pendidikan Reguler ke-60 Sekolah Staf dan Komando Angkatan Darat (Seskoad) di Tribun Gedung E Mabes TNI AD, Selasa (29/6).
Selain itu juga, sambung perempuan pertama yang menjadi Ketua DPR RI ini, untuk membangun detterence effect terhadap negara lain.
Negara yang memiliki industri pertahanan kuat dan maju, menurut Puan, mendapat keuntungan. Karena bisa lebih dalam mengendalikan arah politik yang dapat berpengaruh terhadap hubungan diplomatik.
Meski demikian, diingatkan Puan, diplomasi Indonesia harus teguh pada prinsip politik luar negeri Indonesia yang bebas-aktif.
“Kita berhak menentukan arah kebijakan, sikap, kedaulatan dan tidak dapat dipengaruhi kebijakan politik luar negeri negara lain,” tandasnya.
Kekuatan pertahanan nasional selain membutuhkan strategi geopolitik, kekuatan alutsista serta industri pertahanan, juga sangat ditentukan oleh sumber daya manusia yang unggul, yaitu prajurit TNI yang andal.
Membangun prajurit TNI AD yang andal perlu terus dilakukan melalui pendidikan, penugasan lapangan, maupun kegiatan khusus untuk dapat meningkatkan profesionalitas, menguasai teknologi, mampu berpikir strategis dan berjiwa Indonesia.
Menurut legislator dari dapil Jawa Tengah 5 ini, Sesko AD sebagai lembaga pendidikan pengembangan umum tertinggi di lingkungan TNI Angkatan Darat, memiliki peran strategis dalam menyiapkan think tank dan pusat pemikiran strategis Angkatan Darat.
Selain itu, Minimum Essential Force (MEF) pertahanan negara aspek matra darat, maka Seskoad harus menyiapkan konsep postur TNI AD ke depan. Baik dari aspek geopolitik, perkembangan teknologi (IT dan Artificial Inteligence), serta bentuk ancaman baru terhadap kedaulatan negara serta operasi militer lainnya.
Dalam kuliah umum yang mengangkat tema: “Pembangunan Karakter Bangsa dalam Menghadapi Arus Globalisasi”, diakui Puan membangun postur pertahanan militer yang ideal tidak dapat dilakukan dalam waktu singkat. Bahkan seringkali berada dalam situasi yang dinamis, sesuai dengan perubahan lingkungan strategis, hakikat dan bentuk ancaman.
“Oleh karena itu sebagai perwira TNI AD, melalui Seskoad ini agar dapat menggali berbagai strategi geopolitik, strategi diplomasi negara industri alutsista, kekuatan dan potensi nasional yang diperlukan, untuk membangun pertahanan negara matra darat yang kuat,” pungkas alumni FISIP UI ini. (b2n/foto: ist)