BATULICIN, Banuapost.co.id– Dinas Perpustakaan dan Kearsipan Kabupaten Tanah Bumbu (Tanbu) terus menggiatkan program transformasi perpustakaan berbasis inklusi sosial. Menggandeng kelompok literasi Komunitas Pegiat Gambar (Kopiambar), Dispersip selenggarakan pelatihan video promosi produk.
Pelatihan diikuti 40 peserta dari berbagai bidang usaha yang ada di Kabupaten tersebut. Kegiatan yang berlangsung Rabu (14/9) di studio mini lantai II kantor pelayanan Dispersip ini, menerapkan metode kombinasi teori dan praktik. Peserta seketika memperaktikkan teori yang diperoleh, dipandu narasumber.
Peserta dibekali pengetahuan mengenai proses pembuatan video dari praproduksi hingga pascaproduksi. Narasumber membekali tori dan praktik tentang menulis skrip, pengambilan gambar serta editing. Pelatihan berbasis aplikasi android ini mendapat sambutan hangat dari peserta, karena cukup mudah diaplikasikan.
Untuk diketahui pelatihan pembuatan video promosi produk UMKM ini merupakan pelatihan lanjutan, setelah sebelumnya Dispersip juga membuat pelatihan promosi berbasis aplikasi canva sebulan sebelumnya.
Plh Kadispersip Tanbu, Muhammad Saleh mengatakan, perpustakaan saat ini sedang menggiatkan inklusi sosial. Perpustakaan tidak hanya berhubungan baca-tulis buku, namun juga memformulasikan kegiatan literasi yang dapat mensejahterakan masyarakat.
Pelatihan ini merupakan program keliterasian yang dapat membantu pelaku usaha kecil untuk meningkatkan omset penjualan melalui promosi yang memanfaatkan platform digital. Saat ini bukan lagi masanya promosi dengan cara konvensional.
“Seperti kita tahu saat ini, harga BBM naik. Sehingga biaya produksi juga naik. Karena itu pelaku usaha juga harus meningkatkan omset penjualan jika tidak ingin dalam posisi yang merugi,” ujar Saleh saat membuka pelatihan.
Saleh menjalaskan, kompetisi bidang usaha saat ini semakin ketat. Setiap pelaku usaha dituntut untuk memiliki ciri khas sendiri yang dapat dijadikan sebagai keunggulan. Salah satu stategi untuk meraih hal tersebut dengan menjangkau promosi pada platform digital.
“Setiap produk bisa saja sama jenisnya di pasaran. Meski sama jenis, rasa harusnya tidak sama kalau ingin laku. Harus bisa membuat yang berbeda dengan yang lain. Begitu juga dengan promosi, kita harus lebih maju dari yang lain,” katanya.
Salah satu narasumber Kopiambar, Ray Fanathagama, mengatakan, pelaku usaha saat ini harus mampu menembus pasar digital. Selain mampu membuat produk yang unggul, pelaku usaha juga harus bisa memuat kemasan dan promosi yang jitu di platform digital. Pelaku usaha juga dituntut mampu membuat penetrasi marketing dengan cara-cara yang menarik.
“Membuat konten-konten yang menarik, yang membuat warga net ingin menelisik lebih jauh prihal konten tersebut, membuat kita harus kreatif,” jelasnya.
Menurut Ray yang juga searang animator ini, media sosial saat ini menjadi sarana promosi yang paling mudah dijangkau. Hampir semua orang memiliki akun media sosial. Karena itu memanfaatkan media sosial untuk mempromosikan produk, merupakan keharusan.
Selain Kopiambar, pelatihan inklusi sosial ini juga di dukung PT Arutmin Site Batulicin. Melalui divisi CSR, perusahaan ini juga memberikan atensi yang cukup tinggi untuk kemitraan UMKM.
Beberapa program inklusi sosial yang pernah dilaksanakan Dispersip bekerjasama dengan Kopiambar adalah pelatihan fotografi, pelatihan penulisan dan pengelolaan blog. (uza/foto: bzak)