BANJARMASIN, banuapost.co.id– Ikan gabus atau haruan dan rokok kretek filter, merupakan dua jenis komoditas yang memliki andil terjadinya inflasi di tiga wilayah di Kalsel.
Selain dua jenis komoditi itu, beras, ikan nila dan mobil juga berandil.
Sementara ketiga wilayah, Kota Banjarmasin, Tanjung, Tabalong dan Kotabaru.
“Selama Januari 2020, Kota Banjarmasin tercatat mengalami
inflasi sebesar 0.25 persen, lebih rendah dari sebelumnya 0,57 persen, Kota
Tanjung 0,43 persen lebih rendah dari sebelumnya 0,97 persen, dan Kotabaru sebesar 0,68 persen,” jelas Kepala Kantor Perwakilan
(KPw) Bank Indonesia Kalsel, Amanlison Sembiring.
Amanison yang didampingi Deputi Direktur KPw BI Kalsel, Dadi Esa Cipta dan Kepala Divisi Sistem Pembayaran (SP), Pengelolaan Uang Rupiah (PUR), R Bambang Setyo, mengungkapkan inflasi yang ikut mempengaruhi perekonomian di Provinsi Kalsel, dalam acara bulanan berbincang dengan media di Hall Perpustakaan Lantai 4 KPw Bank Indonesia Kalsel, Rabu (12/2).
Dalam bincang-bincang yang mengusung tema: “Pengendalian Inflasi Imbauan Bijak Berbelanja dan Sosialisasi QRIS”, menurut Amanlison, inflasi tertinggi di 2019 terjadi pada Januari, 0,81 persen (mtm), April 0,93 persen dan Mei 0,90 persen (mtm) (periode nataru dan puasa serta lebaran).
“Sementara sepanjang Januari 2020, inflasi Kalsel sebesar 0,31
persen (mtm) dan 3,07 persen (yoy). Penyebab utamanya, bersumber dari inflasi
kelompok bahan makanan,” imbuh Amanlison.
Sedang komoditas penahan inflasi terbesar dibandingkan dengan
bulan yang sama di tahun lalu (yoy), menurut Amanlison, angkutan udara, bensin,
biaya pulsa ponsel, daging ayam ras, dan obat dengan resep.
“Namun jika dibandingkan dengan bulan sebelumnya (mtm), angkutan
udara, baju muslim pria, bensin, terong, dan daging ayam ras,” ucap Amanlison.
Sesuai dengan roadmap pengendalian inflasi nasional dan daerah,
BI Kalsel, sambung Amanlison, membuat desain program yang akan dilakukan di 2020
dalam kerangka 4K. Yaitu, Keterjangkauan harga, Ketersediaan pasokan, Kelancaran
distribusi, dan Komunikasi efektif.
“Karena
itu untuk meningkatkan pertumbuhan ekonomi baru, BI Kalsel di 2020 mengharapkan
perbaikan sektor pertambangan dan kinerja industri sawit,” ujar Amanlison.
Sebab perbaikan kedua sektor usaha tersebut, lanjut Amanlison, berpeluang
mendongkrak pertumbuhan perekonomian di Kalsel.
Ditegaskan Amanlison, selain kedua sektor itu, hilirisasi
agroindustri, pengolahan ikan dan pariwisata alam yang dibarengi dengan pertumbuhan
ekonomi digital serta syariah, juga
berpeluang mempercepat akselerasi.
Menyinggung soal kebijakan ke depan BI Kalsel, diakui Amanlison,
stakeholder berupaya bersama memajukan perekonomian daerah dengan mengembangkan
klaster dan UMKM.
“Target
yang ditetapkan setiap klaster 10 persen. Setiap klaster telah melampaui target,
seperti bawang merah 27,93 persen, padi unggul, ikan air tawar 11,10 persen,
udang basah 31 persen, kerjianan anaman purun dan ilung,” pungkasnya. (oie/foto: olive)
