BANJARMASIN, banuapost.co.id– Pemerintah diwanti-wanti bertindak cepat dalam menanggulangi pandemi virus mahkota (corona dalam Bahasa Latin: mahkota, Red.). Karena wabah Covid-19, sangat berdampak pada perekonomian.
“Sangat berdampak ke perekonomian global dari segi mikro dan makro. Setelah peristiwa ini terlewati, tidak menutup kemungkinan roda perekonomian mulai dari nol lagi. Karena melihat data yang ada, harga minyak dunia pun saat ini minus,” ujar Ahmad Zulfakar, peneliti dan mahasiswa Doktoral University West Scotland (UWS) London.
Ahmad Zulfakar mengemukakan kekhawatirannya itu dalam diskusi daring yang digagas Pusat Kajian Anti Korupsi dan Good Governance (Parang) ULM, Kamis (23/4).
Diskusi yang dipandu Rizal Nagara, yang juga fresh graduete ekonomi Islam di UIN Antasari Banjarmasin, selain menghadirkan narasumber Ahmad Zulfakar, juga Syaiful Adhar, praktisi yang juga pengurus HIPMI. Diskusi mengusung tema: “Corona dan Tantangan Masa Depan Ekonomi Indonesia”.
Karena itu, lanjut Ahmad Zulfakar, pemerintah harus sigap dan siap untuk merealokasikan anggaran bagi pelaku dan pegiatan UMKM di Indonesia. Karena dari sanalah roda perekonomian di masyarakat bisa tumbuh.
Sementara Syaiful Adhar, praktisi dan pengusaha, mengatakan, pemerintah dengan segala kelebihan dan keterbatasan, sudah melakukan yang terbaik dengan kebijakan dan program yang diterapkan.
“Di saat Indonesia sedang gencarnya menuju negara maju dan bergeser dari negara berkembang, kita tidak memprediksi peristiwa ini akan terjadi,” ujarnya.
Tetapi dengan segala kelebihan dan keterbatasan, sambung Syaiful Adhar, pemerintah Indonesia sudah melakukan yang terbaik untuk penanganan wabah Covid 19.
“Penerapan PSBB langkah terbaik untuk perekonomian masyarakat. Apalagi bagi masyarakat pelaku UMKM yang jumlahnya sangat banyak,” imbuh Syaiful.
Selain itu, lanjut Syaiful, program BLT dari pemerintah pusat juga sangat membantu bagi masyarakat yang terdampak langsung.
“Oleh sebab itu, pemerintah daerah harus lebih giat dalam memperhatikan dan melindungi masyarakat, baik dari segi kebutuhan hidup maupun aspek lainnya,” pungkasnya. Sedang Rizal, selaku moderator diskusi, juga mengingatkan, pemerintah harus pro aktif terhadap penyerbaran virus. Seimbangkan antara ekonomi dan kemanusiaan.
“Jangan sampai terlalu fokus pembenahan ekonomi, tapi menanggalkan sisi kemanusiaan. Kita tidak ingin lagi mendengar ada masyarakat yang meninggal dunia karena kelaparan,” tegas demisioner Ketua BEM UIN Antasari Banjarmasin ini. (yb/foto: ist)