Meski pesta demokrasi bangsa ini, pemilihan umum (pemilu) legislatif 2019 masih setahun lagi, namun hasil berbagai lembaga survey ektabilitas Jokowi masih teratas, meninggalkan pesaingnya, Prabowo, atau siapa pun!
Itulah fenomena terbesar politik negeri ini. Karena itu, pertarungan sesungguhnya bukan pada pemilu legislatif. Tapi pada pemilu presiden (pilpres). Pertarungan menjadi orang nomor 1 menjadi klimaks politik negeri ini.
Akibatnya, suhu politik menuju pilpres akan semakin panas. Sebab konstelasi paska pemilu legilastif, akan berubah dan peta koalisi pun semakin menemukan titik terang. Kini tinggal menunggu langkah-langkah strategis apa yang akan diambil tiap partai yang masuk ambang batas electoral tresshold.
Sebagai konsekuensinya, seluruh mesin partai harus tetap dalam status ‘siaga’ menyiapkan kembali seluruh kekuatan untuk memenangi pilpres. Kampanye terbuka partai, beragam metode kampanye, paparan program, dan janji keberpihakan kepada rakyat, harus kembali ditata ulang.
Persaingan menuju kursi RI 1 akan begitu ketat. Sukses PDI-P menjadi momok bagi partai-partai lainnya. Termasuk Golkar sekali pun. Di sinilah kejelian, ketepatan, dan keakuratan jalinan koalisi dipertaruhkan. Salah berkoalisi maka kegagalan menjadi taruhannya.
Munculnya figur populer Jokowi telah menjadi fenomena tersendiri bagi dunia perpolitikan tanah air. Daya magnetnya mampu menyihir publik Indonesia.
Suka atau tidak suka, ketokohan Jokowi masih menjadi daya tarik. Jadi wajar bila banyak pengamat memprediksi, dengan siapa pun Jokowi disandingkan dalam pilpres mendatang, maka dia akan menjadi pemenangnya. Benarkah demikian? Kita tunggu kebenarannya.
Selain kurang bagusnya performance partai-partai lain, seperti Gerindra, PKS dan PAN, juga sangat dipengaruhi ‘berjalan mulusnya’ karir politik Jokowi. Ketiga partai tersebut sering kali gagal menjadi kekuatan penyeimbang yang elegan.
Dalam teori tentang kelompok dan hubungan antar kelompok (Social Identity Theory dan Social Categorization Theory), dua kelompok yang berkompetisi memiliki potensi untuk konflik. Sementara dampak kompetisi, kalah dan ada yang menang.
Begitu pula dalam pilpres mendatang. Perjuangan para capres akhirnya akan menemukan sebuah keputusan akhir, yaitu menang alias terpilih atau sebaliknya kalah alias tidak terpilih.
Jika kemenangan yang didapat, maka ia akan dapat membawanya ke puncak kekuasaan. Namun bila kekalahan yang didapat, maka tenggelamlah seluruh kesempatan ‘berkuasa’.
Untuk itulah kesiapan mental para capres haruslah sejak dini dipersiapkan. Jika menang diharapkan tidak jumawa, sombong, dan tinggi hati serta tidak melupakan janji-janji politik yang pernah disampaikan kepada masyarakat. Apalagi melakukan korupsi. Ingat, kekuasaan itu cenderung korup dan kekuasaan absolut pasti korup (Lord Acton, 1887).
Namun jika harus kalah, maka sportivitas, obyektivitas, dan pengakuan akan kekalahan harus menjadi benteng terakhir. Sehingga kekecewaan yang berlebihan tidak benar-benar terjadi.
Melihat seluruh potret di atas, kita berharap terdapat kesadaran yang penuh dari seluruh capres yang ada agar benar-benar bersikap lebih realistis dan penuh perhitungan dalam mengejar sebuah mimpi menjadi presiden terpilih 2019.
Mental para capres ini harus kokoh disertai sikap arif dan bijaksana, agar kelak bila akhirnya harus meraih sukses atau takdir menentukan gagal, maka jiwa sportivitas dan profesional serta elegan menjadi dasar penerimaannya.
Selamat menuju peperangan yang sesungguhnya. Torehan sejarah akan mencatat sebagai pioner demokrasi di negeri ini walau dengan sejuta pengorbanan yang tak ternilai. Kalah dan menang dalam sebuah kompetisi adalah wajar. Motto ‘siap untuk menang dan kalah’ harus dipegang teguh. Semoga! (yebe/aktivis media)