Bagi umat Islam di belahan negara manapun di dunia, Idul Fitri hukumnya sunah untuk dirayakan. Namun tentunya dengan kondisi yang ada. Terlebih dengan bencana pandemi Covid-19 yang tengah kita alamai bersama.
Idul Fitri pada hakikatnya ungkapan syukur atas kemenangan melawan nafsu duniawi selama mengarungi rasa haus dan lapar di Bulan Ramadhan.
Islam tidak menghendaki perayaan simbolik dan bermewah-mewah. Apalagi sambil memaksakan diri. Islam menganjurkan perayaan dengan kontemplasi dan tafakur tentang perbuatan selama ini.
Karena itu, merayakan Idul Fitri pun tidak harus dengan baju baru. Tapi jadikanlah sebagai ajang tasyakur, refleksi diri untuk kian mendekatkan diri pada Alah SWT.
Perayaan Idul Fitri sebenarnya merupakan momen untuk mengasah kepekaan sosial. Disaat berbahagia merayakan kemenangan, sekitar kita dan di tempat-tempat lain, masih banyak yang bergumul dengan kesulitan ekonomi dan kemiskinan. Bahkan mungkin sedang menangis, karena menahan lapar.
Secara ritual keagamaan, sebagian besar kita telah mengambil bagian dalam penderitaan mereka dengan berpuasa selama Bulan Ramadhan. Kita mengoptimalkan kemampuan rohani untuk mengasah kepekaan sosial terhadap penderitaan orang-orang yang tak mampu secara ekonomi.
Namun pertanyaannya, apakah puasa yang sudah dijalankan berkenan di hadapan Allah SWT? Ataukah hanya ritual-simbolik. Sebatas menahan lapar dan haus, seperti yang pernah disinyalir Nabi Muhammad SAW? Jawabnya; tidak ada satu pun umat yang tahu.
Tapi menurut para ulama, ada beberapa indikasi seseorang dianggap berhasil dalam menjalankan ibadah puasa. Di antaranya ketika kualitas kesalehan individu dan sosialnya meningkat.
Ketika jiwanya makin dipenuhi hawa keimanan. Ketika hatinya sanggup berempati dan peka atas penderitaan dan musibah saudaranya yang lain. Artinya, penghayatan mendalam atas Ramadhan akan membawa efek fantastik, individu, maupun sosial.
Jika keberhasilan itu yang dicapai, maka Idul Fitri benar-benar menjadi hari kemenangan sejati, dimana Allah SWT akan memberikan penghargaan teramat istimewa yang selalu dinanti-nanti siapapun, termasuk para nabi dan orang-orang shaleh, yaitu ridha dan magfirahNya sebagai ganjaran atas amal baik yang telah dilakukan.
Karena Allah SWT juga pernah berjanji; tak satupun kaum muslimin yang berdoa pada hari raya Idul Fitri, kecuali akan dikabulkan. Karena itu bersyukurlah! Selamat Hari Raya Idul Fitri 1 Syawal 1441 H, mohon maaf lahir dan bathin. (yebe/aktivis media)