JAKARTA, banuapost.co.id– Memasuki usia ke-48 tahun pada 2020 ini, ternyata pengusaha, khususnya pengusaha muda, belum merdeka dari perekonomian.
Penilaian itu dikemukakan Ketua Umum BPP HIPMI, Mardani H Maming, dalam acara milad organisasi tersebut, Rabu (10/6).
Padahal, lanjut Mardani, di usia ke-48 seharusnya menyiratkan kedewasaan yang terbentuk dari perjalanan panjang organisasi ini, dan menuju era keemasanya.
“Namun HIPMI di usia 48 tahun apakah sudah merdeka dari semuanya? Kita bisa merdeka dari penjajahan, tapi belum merdeka dari perekonomian,” tegasnya.
Perjuangan-perjuangan itulah, sambung Mardani, yang harus diperjuangkan. Sebab tidak ada sejarah negara dan bangsa yang bisa merubah, kecuali oleh anak bangsa atau anak muda. Anak muda itu adalah di HIPMI.
HIPMI yang berdiri pada 10 Juni 1972, menurut Mardani, sudah saatnya berjuang menyampaikan cita-cita para pendahulu atau ada 16 mantum yang hadir sebagai perjuangan ekonomi. Salah satunya, memperjuangkan untuk merdeka dari perekonomian bangsa dan negara.
Meski demikian, HIPMI menyadari pandemi Covid-19 telah menghantam, khususnya ke semua lini, tidak lepas pengusaha muda.
Karena itu, imbuh Mardani, HIPMI minta ke pemerintah lebih memperhatikan UMKM, yang notabene anak-anak HIPMI. Sebab yang menikmati relaksasi, hanya perusahaan-perusahaan besar.
“Perusahaan yang pinjamannya di atas Rp 10 miliar, tidak perlu terlalu ditolong. Karena rata-rata perusahaan besar, biasanya hubungannya baik dengan bank. Bahkan bank pun takut khilangan kreditur perusahaan besar,” ucapnya.
Oleh sebab itu, menurut Mardani, yang menjadi perhatian penuh seharusnya pinjaman yang di bawah Rp 10 miliar. Karena para pengusaha UMKM melobi bank agak sulit akibat tidak punya nama.
“Sehingga pengusaha-pengusaha HIPMI di daerah, banyak yang belum mendapatkan bantuan. Dengan kondisi ini, mudah-mudahan menjadi perhatian pemerintah,” pungkas Mardani dalam acara yang dihadiri para anggota dan para mantan Ketua Umum HIPMI itu. (yb/b2n/foto: ist)