BATULICIN, banuapost.co.id– Kabupaten Tanah Bumbu dinilai warganya sendiri krisis kepemimpinan dalam satu dasawarsa terakhir ini. Pasalnya arah pembangunan, tidak berpihak bagi masyarakat yang bermukim di pelosok dan pedesaan.
Sebaliknya, keberhasilan infrastruktur cendrung tertumpu di kawasan perkotaaan. Sehingga rasa keadilan, belum dirasakan seluruh masyarakatnya.
Tengok saja, berapa banyak jalan desa dan lingkungan yang sudah beraspal dan akses nyaman di pelosok sudah terbangun. Bandingkan dengan wilayah perkotaan, gang sempit saja mulus dan rata.
“Ini bukti pembangunan di Tanah Bumbu belum merata. Selama kami bermukim di sini, baru sebagian kecil ada akses jalan desa maupun lingkungan nyaman dilalui,” keluh Syarifuddin, warga Desa Sepakat, Kecamatan Mentewe, Kamis (19/11).
Menurut Syarifuddin, saat ini yang paling dirasakan baru jalan protokol lintas kecamatan dengan kondisi akses sangat nyaman dan kualitas bagus. Namun sedikit bergeser ke permukiman warga, jalan jelek bisa dilihat sepanjang mata memandang.
“Padahal jalan lingkungan sangat vital bagi keberlangsungan warga melaksanakan beragam aktivitas sehari-hari. Baik bagi kegiatan bermasyarakat, ibadah maupun untuk geliat perekonomian,” katanya seraya menyebutkan disamping jalan, mereka butuh sarana saluran air drainase dan peremajaan jembatan.
Ia melanjutkan, di desanya jumlah penduduk mencapai 4 ribu jiwa, lebih dominan bermukim di lingkungan dalam, di luar jalan protokol. Sehingga harusnya prioritas pembangunan sarana publik lebih di wilayah itu.
“Kalau jalan itu tak diperhatikan pemerintah, kasihan warga terganggu atas ketidaknyamanan kondisi ini,” ketusnya seraya berharap pemkab segera melakukan perbaikan.
Terpisah, warga Sari Mulia, Kecamatan Mentewe, Safar Idris, menyebutkan, kesenjangan pembangunan perkotaan dan pedesaan menunjukkan ketidakadilan pemimpin. Masyarakat pedesaan dan di pelosok seakan tidak begitu penting. Sehingga kurang mendapatkan sentuhan.
“Kami menilai, Tanah Bumbu krisis kepemimpinan karena ketidakpekaan terhadap kebutuhan seluruh masyarakatnya,” ucapnya.
Ironisnya, mereka mengaku dalam 2 periode ini bahkan tak mengenal sosok pemimpinnya. Karena tak pernah berkunjung.
“Warga kepengen melihat sosok bupatinya saja ibaratnya belum pernah tahu siapa sebenarnya bupatinya,” keluhnya.
Karena pemimpin sebelum ini, tak pernah mengunjungi wilayah mereka. Sehingga tak bisa melihat apa kebutuhan masyarakat yang diinginkan. Salah satu contoh, kondisi jalan lingkungan yang rusak parah, karena tak tersentuh pengaspalan.
Saat diguyur hujan, genangan air dan jalan becek menjadi pemandangan lazim. Ini sangat mengusik kenyamanan warga dalam beraktifitas.
“Masalah ini menunjukkan, ketidakpekaan seorang pemimpin,” ketusnya.
Padahal pernah mendengar pemimpin mereka banyak memiliki perusahaan. Namun kebijakannya tidak dirasakan masyarakat di pelosok desa dengan pembangunan yang merata.
“Saya tidak respek jika ada pemimpin yang hanya memperkaya diri, tapi tak peduli masyarakat desa,” tegasnya.
Ia sangat berharap, dimomentum pilkada ini akan menghasilkan pemimpin yang amanah. Bisa menjalankan tugasnya tanpa kepentingan tertentu. Sosok yang peduli terhadap semua warganya dimana pun berada.
“Kami kepingin figur yang berpengalaman dalam membangun daerah, mampu mengayomi seluruh masyarakat,” pungkasnya.
Dari pantauan di lapangan, benar sebagian besar jalan lingkungan di Kecamatan Mentewe kondisinya memprihatinkan. Genangan air dan becek nyaris ada di sepanjang jalan tersebut. Hal ini pun mengemuka saat dialog masyarakat dengan cawabup nomor urut 3, HM Rusli yang berkampanye di lokasi itu.
Nyaris semua masyarakat berharap sosok yang berpasangan dengan cabup dr HM Zairullah Azhar, menjadi pemimpin agar ke depan bisa menyelesaikan semua persoalan yang dihadapi warga.
Untuk mewujudkan mimpi itu, warga berikrar memberikan hak suaranya pada 9 Desember mendatang untuk kemenangan Paslon ZR ini. (emy/jack/foto: ist)