PALANGKA RAYA– Media massa diingatkan untuk tidak menjadi penyampai pesan radikalisme dari kelompok teroris. Karena itu insannya, diminta cermat dalam menayangkan informasi.
“Jika tak hati-hati, media massa tanpa sadar bisa terjebak untuk menyampaikan pesan dari para pelaku terorisme ini,” kata Ketua Dewan Pers, Yoseph Adi Prasetyo, pada kegiatan literasi digital Pencegahan Radikalisme dan Terorisme di Palangka Raya, Kamis (11/10).
Yoseph mencontohkan, beberapa waktu lalu muncul fenomena sejumlah media massa televisi menayangkan secara live (langsung) peristiwa pengepungan kelompok teroris di Wonosobo oleh Densus 88 Anti Teror selama berhari-hari.
Dari televisi, tayangan peristiwa itu kemudian turut disebarkan masyarakat di media sosial.
“Tanpa kita sadari, tayangan semacam ini bisa saja memunculkan pemahaman yang keliru di kalangan pemirsa. Bahwa sedikit orang (teroris) yang dikepung bisa dianggap hero (pahlawan) oleh masyarakat,” urai Yoseph.
Pemahaman yang keliru tersebut, lanjutnya, berpotensi memunculkan rasa simpati di kalangan masyarakat. Simpati inilah yang bisa saja menjadi cikal bakal penerimaan masyarakat terhadap faham radikalisme.
“Lewat tayangan itulah sebenarnya ‘pesan’ terorisme ke masyarakat tersampaikan. Karena itu, kita (Dewan Pers) sepakat, stop tayangan langsung peristiwa terorisme. Tayangan langsung hanya boleh bila kondisi lokasi telah steril,” katanya.
Untuk menghindarkan media massa dimanfaatkan pelaku-pelaku terorisme, Yoseph berpesan agar setiap jurnalis taat pada kode etik jurnalistik (KEJ) dalam menjalankan tugas.
“Pasal 1, wartawan Indonesia hanya memberitakan fakta. Sebaiknya hindari melansir berita yang berasal dari informasi di media sosial, karena 95 persen isinya hoax (berita palsu),” ujarnya.
Selain Yoseph, kegiatan yang digelar Badan Nasional Penanggulangan Terorisme (BNPT) melalui Forum Koordinasi Pencegahan Terorisme (FKPT) Kalteng ini, menghadirkan nasa sumber dari Konsultan Media Sosial, Lexi Junior H Rambadeta, dan Dosen Universitas Muhammadiyah Palangka Raya, Dr Ika Safitri Windiarti.
Kegiatan yang dihadiri Sekdaprov Kalteng, Drs H Saidina Aliansyah, dibuka resmi Deputi Bidang Pencegahan, Perlindungan dan Deradikalisasi BNPT, Brigjen TNI Hendri Paruhuman Lubis.
Peserta kegiatan sekitar 150 orang, di antaranya perwakilan lembaga pers berbagai perguruan tinggi di Palangka Raya, Humas dan prokoler pemerintah daerah, Korem 102/Pjg, dan Polda Kalteng, para penyiar radio/televisi, serta wartawan dari berbagai media massa di Kalteng. (sar/foto: ist)