PELAIHARI, Banuapost.co.id– Bupati Tanah Laut (Tala), H Rahmat Trianto, mengaku belum puas dengan capaian kinerja 100 harinya. Hal ini diungkapkan Bupati Tala periode 2025-2030 saat memimpin Evaluasi 100 Hari Kerja Bupati dan Wakil Bupati di Aula Sarantang Saruntung Kantor Bupati Tala, Senin (19/5/2025).
Evaluasi 100 Hari Pasangan Bupati H Rahmat Trianto dan Wakil Bupati H Muhammad Zazuli itu diikuti Pj.Sekretaris Daerah, para Asisten, Kepala SKPD dan Kepala Bidang di Lingkungan Pemerintah Kabupaten Tanah Laut.
Dari hasil evaluasi program 100 hari kerja yang dipaparkan Kepala Badan Perencanaan Pembangunan, Riset dan Inovasi Daerah (Bapperida) Tala, Afrizal Akbar, sebanyak 12 dari 15 program telah terealisasi, sedangkan tiga program lainnya masih berproses karena berkaitan dengan regulasi yang harus diselesaikan terlebih dahulu.
Sementara, dalam forum tersebut bupati secara terbuka menyampaikan dirinya belum puas dengan capaian pemerintahan selama seratus hari pertama masa jabatan.
“Pertama-tama saya ingin menegaskan, saya belum puas dengan capaian kinerja dalam 100 hari ini. Perlu saya sampaikan, evaluasi 100 hari kerja secara resmi akan jatuh pada 31 Mei. Artinya, kita masih punya waktu sekitar 10 hari ke depan untuk menuntaskan beberapa hal yang menjadi prioritas,” ujarnya.
Menurutnya, evaluasi ini bukan sekadar formalitas, tetapi menjadi tolok ukur dalam mempertanggungjawabkan amanah kepada masyarakat Tala. Ia juga mengingatkan bahwa Tala adalah kabupaten yang tua dengan sumber daya manusia yang berpengalaman. Namun demikian, pengalaman tidak boleh membuat jajaran pemerintah larut dalam zona nyaman.
“Kalau kita biarkan masuk ke zona nyaman, maka yang terjadi hanyalah rutinitas bukan perubahan. Jangan sampai kita hanya bekerja mengikuti arus, tanpa semangat untuk memperbaiki dan membangun daerah kita,” tegasnya.
Dalam kesempatan itu, bupati juga menyoroti sikap disiplin dan semangat pengabdian para ASN. Ia menekankan pentingnya bersyukur menjadi aparatur sipil negara yang menerima gaji dan tunjangan yang layak.
“Sebagai perbandingan, dulu saya sebagai prajurit hanya menerima Rp4–5 juta, dengan taruhan nyawa di lapangan. Maka, saya ingatkan lagi, jangan lupa niat awal menjadi ASN—untuk mengabdi, bukan untuk mencari kenyamanan,” katanya.