BANJARMASIN– Usai sukses menyutradarai film Dilan 1990, seniman asal Bandung, Jawa Barat, Pidi Baiq, mulai menggarap film Koboy Kampus Understanding The Panasdalam.
Film ini selain sepenuhnya dibiayai Enam Sembilan Production dari Batulicin, lokasi syutingnya pun di sejumlah tempat di Kalimantan Selatan.
Tidak hanya lokasi syuting, Koboy Kampus juga memberi kesempatan talenta muda banua. Melalui proses casting di Taman Budaya Kalsel, Sabtu (23/6) dan Minggu (24/6), dicari sedikitnya lima pemainnya pun asal banua.
Kesempatan untuk bermain di film layar lebar ini pun, tidak disia-siakan kawula muda di Banjarmasin. Meski sebagian besar mengaku tidak memiliki pengalaman seni peran, apalagi di layar lebar, namun mereka tetap optimis mencoba peruntungan bisa menjadi artis.
Salah satunya Elsa, yang saat init bekerja di salah satu stasiun tv swasta di Banjarmasin. Menurutnya, kesempatan ini cukup menantang, apalagi film ini disutradarai oleh Pidi Baiq, yang sebelumnya sukses menggarap Film Dilan 1990.
“Kalau pengalaman sih belum ada. Tapi dengan pengalaman saya bekerja sebagai jurnalis, saya tertarik dengan tantangan yang baru ini. Apalagi, inikan film nasional. Jadi tidak ada salahnya untuk mencoba,” kata Elsa.
Eksekutif Produser Film Koboy Kampus yang juga pimpinan Enam Sembilan Production, Rois Sunandar, membenarkan rencana lokasi syuting di sejumlah kawasan di Kalsel. Namun untuk lokasi pastinya, ia mengaku belum bisa menyebutkan.
Manurutnya, meski ini film nasional, sebagai orang daerah, ia ingin mengangkat Kalsel di kancah nasional melalui dunia perfilman. Termasuk dunia pasiwisata dan budayanya.
“Kalau bukan kita siapa lagi? Seperti di beberapa negara lain juga begitu, beberapa daerah mereka perkenalkan melaui dunia entertainmen. Termasuk film,” kata Rois.
Film Koboy Kampus ini diangkat dari kisah nyata kehidupan sang sutradara Pidi Baiq, saat menjadi mahasiswa seni rupa di ITB di era tahun 1995-1998. Ketika itu bersama teman-teman sekampusnya, Pidi Baiq mendirikan Negara Kesatuan Republik The Panasdalam untuk menyikapi era Orde Baru yang kala itu dikenal otoriter.
Meski bergenre drama, penulis skenarionya, Tubagus Dedy, film ini nantinya juga menyuguhkan komedi -komedi segar. Karena, dari kisah nyata kehidupan kampus Pidi Baiq, banyak cerita-cerita konyol yang dilakukannya bersama teman-temannya. Sehingga film ini akan membuat penasaran penontonnya.
“Tapi, film ini berbeda jauh dengan Film Dilan 1990,” kata Dedy. (emy/foto: deny yunus)