BANJARMASIN, banuapost.co.id– Akibat terjadi gangguan distribusi air, Instalasi Pengolahan Air (IPA) 2 Pramuka milik PDAM Bandarmasih, ramai didatangi masyarakat.
Seperti yang terjadi sepanjang Minggu (17/2). Mereka yang datang selain menggunakan kendaraan roda dua dan empat, juga membawa tempat air, seperti ember, jerigen dan galon isi ulang.
Umumnya warga mengaku kehabisan persedian air bersih. Padahal sejak mengetahui terjadinya kebocoran pipa di Jl Gubernur Syarkawi, Sungai Tabuk., Kabupaten Banjar, Jumat (15/2), mereka mulai menampung air di rumah masing-masing.
“Sempat minta sama tetangga yang punya persedian air cukup banyak. Hari ini terpaksa mencari sendiri,” kata Jhony, warga Komplek Smanda, Jl Pramuka, Banjarmasin Timur.
Jhony mengaku sudah dua kali bolak balik dengan sepeda
motornya membawa dua galon air isi ulang. Air yang didapat untuk kerpeluan
sehari-hari, seperti mandi, cuci dan kakus. Sedang untuk air minum, tetap
membeli di penjualan air isi ulang.
Meski sempat direpotkan, Jhony mengaku tidak begitu
kecewa. Karena gangguan distribusi air ini akibat terjadi pipa bocor.
“Tapi saya berharap, perbaikannya bisa segera. Supaya
distribusi airnya bisa kembali lancar,” ujarnya.
Selain menggunakan kendaraan roda dua, lokasi ini juga
didatangi warga yang menggunakan pick up. Salah satunya, Maulana, warga Komplek
Kayu Bulan, Sungai Andai, Banjarmasin Utara.
Sementara Senior Manajer Keuangan dan Pemasaran PDAM
Bandarmasih, Sudrajat, mengatakan, air
bersih gratis ini dibagikan sejak Sabtu (16/2). Layanananya dibuka 1 x 24 jam,
sampai distribusi air bersih kembali lancer.
“Air gratis ini hanya untuk warga yang membawa galon,
ember atau jerigen. Sedang untuk drum, kita kenakan biaya,” jelasnya.
Penyaluran air bersih ke masyarakat, lanjut Sudrajat, juga
dilakukan dengan menggunakan truk tangki milik PDAM Bandarmasih serta dibantu milik
pemadam kebakaran.
Namun untuk penyaluran dengan truk tangki, warga yang
meminta dikenakan biaya pengangkutan. Untuk rumah tangga, dikenakan Rp 115,000.
Sedang untuk pelaku usaha, dikenakan biaya pengantaran Rp 196.000.
“Tapi untuk warga yang secara kolektif memerlukan air
bersih, tidak kami kenakan biaya pengantaran. Syaratnya, minimal lima kepala
rumah tangga dan mendapat persetujuan tertulis dari Ketua RT-nya,” kata
Sudrajat.
Namun demikian, untuk pengantaran ini antriannya cukup panjang, mencapai tiga ratus permintaan setiap harinya. Sehingga pengiriman ke rumah warga memakan waktu cukup lama dari waktu pemesanan. (emy/foto: deny yunus)
