RANTAU BUJUR, banuapost.co.id– Kalau sebelumnya masyarakat Desa Rantau Bujur, Riam Kanan, Kabupaten Banjar, hanya mengenal lewat nama dan foto, kali ini dapat bertatap langsung dan berinteraksi dengan H Ahmadi Noor Supit.
Selain silaturahmi, politisi senior yang kembali
mencalonkan diri sebagai Caleg DPR RI dari Partai Golkar dengan nomor urut 2
untuk daerah pemilihan (Dapil) Kalsel 1
ini, juga berkesempatan menengok Pesantren Riyadush Shalihin yang kondisi bangunannya
perlu uluran tangan untuk perbaikan.
Meski tengah gerimis, calon wakil rakyat dari Provinsi
Kalsel ini, berhadir di tengah
masyarakat di salah satu wilayah di Kabupaten Banjar tersebut, Jumat (15/2).
Padahal untuk sampai ke tengah masyarakat di daerah
tersebut, bukanlah perkara mudah. Selain
harus melalui jalan darat, juga harus melalui jalur air, menyusur Waduk Riam
Kanan dengan perahu motor.
Di satu rumah milik warga di sana sebagai tempat berkumpul, Memet, sapaan akrabnya, disambut hangat, termasuk para tetauha kampung.
Sementara sang legislator, meski menempuh perjalanan yang
cukup melelahkan, tetap bersemangat. Mantan Ketua Banggar DPR RI ini antusias saat
bertemu dengan masyarakat yang sudah lama menantikan kehadirannya.
Didahului dengan Shalat Ashar berjamaah, acara
silaturahmi juga diisi dengan pembacaan doa oleh Habib Abdullah Assegaff dan Tausiyah
oleh Habib Soleh.
“Saya memang baru pertama kali datang ke sini. Tapi saya
bersyukur, karena masyarakat disini kehidupannya cukup sejahtera,” ujar Memet,
memulai dialognya.
Ahmadi Noor Supit adalah politisi senior Indonesia. Mantan Ketua Presidium Persatuan Mahasiswa Kalimantan Selatan (PMKS) se Jawa dan Bali, sudah menjadi Anggota DPR-RI sejak 1992.
Pada masa kerja 2014-2019, Ahmadi bertugas di Komisi XI
(keuangan, perbankan dan perencanaan pembangunan), sekaligus merangkap sebagai
Ketua Badan Anggaran dan Wakil Ketua Fraksi Partai Golkar. Januari 2016, Ahmadi diberi amanah sebagai Ketua Komisi
XI DPR-RI.
Meski lahir di Kota Purwakarta, Jawa Barat, 1 September
1957, ayahnya, Muhammad Saleh Supit, berdarah Minahasa, dan ibunya, Maduarah,
berdarah Banjar asal Kandangan, Hulu Sungau Selatan (HSS). (yb/yen/foto: ist)
