PELAIHARI, banuapost.co.id–
Berkat kain tenun tradisional sasirangan yang dikembangkan Usaha Mikro Kecil
dan Menengah (UMKM), Desa Martadah Baru, Tambang Ulang, menjadi sentra sasirangan
di Kabupaten Tala .
Desa yang semula merupakan unit pemukiman transmigrasi
swakarsa pabrik tebu di era 1980-an, penduduknya kini tidak hanya mengandalkan
dari usaha perkebunan ataupun beternak semata. Tetapi juga dari usaha kecil
atau home industri kerajinan sasirangan.
Produk sasirangan Desa Martadah Baru selama kegiatan
Manunggal Tuntung Pandang Pemkab Tala di desa tersebut, Jumat-Sabtu (8-9/3),
selalu diserbu pembeli.
Menurut Riadi dari Radita Sasirangan, salah seorang
pengrajin yang telah mandiri, awal mula melakoni usaha sasirangan pada 2014
silam.
Saat itu produksi masih sedikit, 10 lembar. Kemudian di
tawarkan ke kantor-kantor di Pelaihari. Omzet pun masih sekitar Rp4 sampai Rp6
juta rupiah sebulan.
Berkat promosi yang terus menerus, kini usaha sasirangan
semakin berkembang. Saat ini omzet mencapai hingga Rp20 juta per bulan.
Sementara konsumennya, tersebar tidak hanya di Kalsel, tetapi
juga dari daerah lainnya, bahkan hingga Singapura, Kuala Lumpur, Selangor dan
Kuching.
“Kami juga melakukan promosi melalui akun facebook
dan instagram,” jelas Riadi.
Sementara Bupati Tala, H Sukamta, mengaku bangga dengan UMKM
Desa Martadah. Bahkan demi mendukung pengembangannya, Pemkab Tala telah membuat
edaran agar para pegawai dan pelajar di kabupaten menggunakan pakaian
sasirangan motif khas Tala, seperti motif anggrek, kijang ataupun jagung.
“Ini agar UMKM semakin berkembang dan warga Tala
bangga memiliki sasirangan motif khas Tala,” ujar Sukamta yang hari itu
juga memakai sasirangan motif anggrek produksi Radita Sasirangan. (zkl/foto: ist)
