PELAIHARI, banuapost.co.id–
Petani karet Desa Damit Hulu, Kecamatan Batu Ampar, yang kebunnya terendam
berbulan-bulan, kembali mendatangi lokasi tambang batubara di Desa Batalang,
Kecamatan Jorong. Mereka ingin menjebol lagi salah satu tanggul yang membuat
air menggenang di perkebunan karet mereka.
Sebelumnya, petani sudah menjebol salah satu dinding tanggul. Namun
debit air hanya berkurang sekitar 50 sentimeter. Padahal menurut warga, sebelum
ada aktivitas tambang, air yang menggenangi kebun karet hanya bertahan beberapa
jam.
Sekitar 15 hektare kebun karet warga Damit Hulu, mati akibat
terendam sejak November 2018. Hal ini tidak pernah terjadi. Akibat genangan
yang berbulan-bulan, ribuan pohon karet mati dan sebagian lagi tidak dapat
disadap, karena tidak ada akses akibat genangan tersebut.
Warga mengaku sudah beberapa kali mendatangi lokasi tambang, dan
menjebol tanggul. Namun oleh penambang, ditutup lagi.
“Mereka seakan tidak peduli dengan keluhan kami, dan penambang
bersikukuh tidak melakukan penggeseran aliran sungai,” kata Ihdar, salah satu
petani karet warga RT 4 Damit Hulu.
Ihdar mengaku sejak sebagian karetnya terendam, hanya mampu
menghasilkan 800 kilogram. Padahal sebelumnya, sampai 1,6 ton per minggu.
Ihdar juga mengaku pernah berhadapan langsung dengan pemilik
tambang, namun tidak menemukan solusi. Pemilik tambang tetap membiarkan
pekerjanya membuat tanggul.
Sementara Kepala Desa Damit Hulu, Anang Mulyani,
mengatakan tidak tinggal diam dengan adanya keluhan warga mengenai genangan
akibat penambangan di desa tetangga.
“Saya sudah bertemu dengan Kades Batalang membicarakan
permasalahan tambang di Desa Batalang yang berimbas ke Desa Damit Hulu. Tapi
sampai saat ini tidak ada kejelasannya,” kata Kades saat dikonfirmasi Jumat
(16/8).
Warga berharap dengan dijebolnya tanggul ini, debit air di perkebunan
karet segera menyusut. Sehingga lahan yang karetnya sudah mati, dapat ditanami
lagi. (zkl/foto: zul yunus)
