PELAIHARI, banuapost.co.id–
Kabut asap menyelimuti ruas jalan trans-Kalimantan, Desa Benua Raya, Kecamatan
Bati-Bati dan Desa Gunung Raja, Kecamatan Tambang Ulang. Akibatnya, lalulintas
di perbatasan kedua desa, sempat padat merayap pada Jumat (13/9) pagi.
Tebalnya kabut asap yang menyelimuti ruas Jalan
Trans-Kalimantan di wilayah Kabupaten Tanah Laut, diduga akibat akumulasi
kebakaran lahan yang terjadi di Kecamatan Bati-Bati dan Kecamatan Tambang
Ulang.
Sehari sebelumya, Kamis (12/9), kebakaran lahan terjadi
di dua titik, Desa Benua Raya dan Tanggul, Desa Ujung, Kecamatan Bati-Bati. Api
lahan menghabiskan hampir 10 hektare lahan berlangsung sampai malam hari.
Willy, salah seorang karyawan sebuah bank di Kota
Pelaihari, mengaku sempat terjebak sekitar 15 menit di ruas jalan yang
menghubungkan Desa Benua Raya dengan Desa Gunung Raja, karena mobil dan motor
harus memperlambat laju.
Jarak pandang kembali normal saat memasuki Desa Pulau
Sari, Kecamatan Tambang Ulang, dan di Desa Padang, Kecamatan Bati-Bati.
Menurut Willy, setiap pagi melintas di ruas jalan
tersebut, meski berkabut tetapi tidak setebal hari ini.
“Setiap hari saya berangkat dari rumah di Landasan Ulin
menuju kota Pelaihari, baru hari ini asapnya yang sangat tebal,” kata Willy
melalui pesan singkatnya.
Willy menambahkan, kabut asap juga terjadi di kawasan
Landasan Ulin, Kota Banjarbaru sampai Desa Pandahan, Kecamatan Bati-Bati,
Kabupaten Tanah Laut.
Sampai pukul 09:00 Wita, asap masih menyelimuti ruas
jalan Trans-Kalimantan di Bati-Bati dan Tambang Ulang. Namun berangsur-angsur
menipis, seiring dengan tembusnya sinar matahari.
Kebakaran lahan di Tanah Laut membuat kerepotan Satgas
Karhutla yang ditempatkan di beberapa titik. Pasalnya, api lahan sering muncul
berbarengan di dua tempat yang berjauhan jaraknya, bahkan petugas pernah dalam
satu hari memadamkan sampai 10 titik api. (zkl/foto:
zul yunus)
