MALANG, banuapost.co.id- Komunitas pengusaha pemula Malang,
Jawa Timur, mengundang Ketua Umum BPP Himpunan Pengusaha Muda Indonesia (HIPMI),
Mardani H Maming, untuk berbagi tips dan ilmu kewirausahaan.
Acara bincang-bincang santai dengan Tajuk: Business Clinic With BPP HIPMI, dihelat
di Chicken Crush, Rabu (20/10) malam. Dalam berbagi ilmu sukses ini, CO PT Batulicin
dan PT Maming, didampingi pengurus HIPMI, Bagas Adhadirga dan seorang
pengusaha, Hendy Setiono.
Nama terakhir merupakan pengusaha muda sukses yang
bergerak di bidang makanan kebab dengan brand yang sudah tak asing lagi di
Jakarta, Babaraji.
Menurut pengusaha muda asal Bumi Bersujud, Tanah Bumbu,
Kalsel itu, sebuah perusahaan bisa sukses selain dikelola dengan kerja keras,
juga dikelola dari hulu hingga hilir.
“Tanpa mau kerja keras, sulit sebuah perusahaan bisa berkembang,”
tegas Bupati Tanah Bumbu ke-2 dua periode itu.
Sedang pengelolaan dari hulu hingga hilir, lanjut pemilik
54 anak perusahaan yang bergerak di berbagai bidang usaha itu, setiap detail
usaha yang dijalankan harus terawasi, hingga dengan profit yang diperoleh.
“Dengan demikian, jika ada masalah solusinya cepat
teratasi, kerja keras yang dilakukan pun tidak akan
sia-sia,” ujar Mardani yang berada di Malang untuk memenuhi undangan dialog di Universitas
Brawijaya Malang, Kamis (31/10).
Dua hari sebelumnya, Selasa
(29/10) petang, Ketua Umum BPP HIPMI yang belum se umur jagung itu, juga
diundang salah satu televisi swasta yang memiliki pengaruh dalam pemberitaan ekonomi,
CNBC Indonesia, dalam acara yang bertajuk: To
Day Closing Bell: Buka-bukaan Pengusaha Soal Ruwetnya Berbisnis di RI.
Undangan diskusi CNBC yang
dilakukan secara live ini, erat
kaitannya dengan kondisi Indonesia yang tengah menghadapi persoalan investasi,
khususnya dalam mencari strategi untuk menarik investor dalam negeri
sebesar-besarnya.
Ini mengingat Bank Dunia
belum lama tadi merilis laporan bertajuk: Kemudahan Berbisnis, di mana
Indonesia menempati peringkat 73. Ternyata dari segi kemudahan berbisnis,
Indonesia masih kalah dari negara-negara lain dengan ukuran ekonomi yang lebih
kecil. Lantas apa obat mujarab untuk menarik investasi ke dalam negeri. (yb/b2n/foto: pange)
