SAMPIT, banuapost.co.id– Kinerja PLN Rayon Sampit dikeluhkan warga dua desa di bantaran Sungai Mentaya, Sampit, Kabupaten Kotawaringin Timur (Kotim). Dua desa itu, Bagendang Permai dan Bagendang Hilir, Kecamatan Mentaya Hilir Utara (MHU).
Pasalnya, meski sudah
puluhan tahun barisan tiang listrik yang ada di dua desa tersebut miring, tak
ada juga tanda-tanda perbaikan maupun pergantian. Seperti menunggu korban di
antara warga dua desa tersebut disengat.
Padahal akibat
miringnya 40 batang tiang listrik di sepanjang dua kilometer di bantaran sungai
tersebut, kabelnya ikut menjadi lentur hingga beberapa meter di atas tanah.
“Sangat riskan akan
roboh karena gerusan arus Sungai Mentaya yang deras,” ujar Ny Wati, warga RT 3,
Desa Bagendang Permai, Selasa (24/12).
Bahkan tak hanya
miring, lanjut ibu rumah tangga itu, teganganya
pun turun naik. Terlebih saat hujan, kalau tidak mati aliran, voltasenya
sampai-sampai lampu led turut tidak menyala.
Karena was-was tiang
roboh ke dalam sungai, Ny Wati berharap, ketika ada pergantian nanti sebaiknya
di pindah ke jalan desa, jauh dari bantaran sungai.
“Tidak jarang kalau
malam hari sering kabel iduknya berasap atau mengeluarkan percikan api.
Biasanya kalau sudah seperti itu, disusul dengan padamnya aliran,” ucap Ny Wati
sembari menunjuk salah satu tiang di belakang rumahnya itu.
Hal senada juga diungkapkan
Sumarno, warga RT 2 yang tinggal di desa yang sama. Ia mengaku sangat khawatir
melihat tiang PLN yang tak ada tanda-tanda perbaikan di desanya tersebut.
“Sejak sepuluh
tahun ini, nyala PLN sering gangguan. Sehingga banyak peralatan elektronik
warga yang rusak. Bahkan kilometer pakai pulsa elektrik pun, banyak yang
rusak,” tutur aparatur desa dari Kasi kesejahteraan dan Pelayanan itu.
Sementara Kades Bagendang
Permai, Kuryadi, juga mengkhawatirkan tiang PLN di bantaran Sungai Mentaya berandil
mengaliri penerangan ke beberapa RT di desa tyersebut.
“Warga desa kita
yang memakai jasa setrum dari tiang itu sebanyak 300 kepala keluarga. Meski
demikian, sebagian besar di antara mereka minta dipindahkan karena sering
gangguan,” jelas kades.
Begitu juga Kades Bagendang
Hilir, Haliq , sangat berharap tiang PLN di bantaran Sungai Mentaya dipindahkan.
“Ada sekitar 40
tiang yang kondisinya sangat memperihatinkan di dua desa ini. Klaau tidak miring,
kabel induknya pun kendor ke bawah,” imbuh Haliq yang kebetulan desanya yang
banyak berdiri tiang listrik itu.
Sekitar tahun 90-an,
lanjut Haliq, tiang PLN ini berada di depan rumah warga. Setelah jalan desa
dibangun persis di belakang rumah, warga pun terpaksa merubah teras rumah
menghadap ke jalan.
Sementara tiang dan
lampu penerang jalannya, tetap berdiri seperti semula di bantaran Sungai
Mentaya. Padahal pihak pemerintahan desa, sudah beberapa kali mengusulkan agar
dipindah ke jalan desa. Namun belum juga ada tanda-tanda perbaikan maupun
pemindahan. (urd/foto: ist)
