BANJARMASIN, banuapost.co.id– Penolakan oknum masyarakat kepada jenazah perawat Covid-19 di sejumlah tempat di Indonesia, memantik kepedulian Yayasan Haji Maming.
Tidak ingin peristiwa serupa terjadi, Yayasan Haji Maming menyiapkan alkah di Batulicin sebagai lokasi pemakaman jika ada dokter dan perawat asal Tanah Bumbu yang meninggal dunia akibat terpapar virus mahkota (corona dalam Bahasa Latin: mahkota, Red.).
Komplek pemakaman tersebut berada di kawasan Cappa Padang, Kelurahan Batulicin, Kecamatan Batulicin. Tanah Bumbu.
“Kalau ada warga Tanah Bumbu yang menolak, makam Haji Maming siap menerima sebagai tempat peristirahatan terakhir, baik dokter maupun perawatnya,” tegas Mardani H Maming, Senin (13/4), mewakili pihak yayasan.
Peristiwa di sejumlah tempat di Pulau Jawa, memang memprihatinkan banyak orang, termasuk Ketua Umum BPP Himpunan Pengusaha Muda Indonesia (HIPMI) itu.
Bagaimana tidak. Sebagai garda terdepan dalam merawat pasien yang terpapar virus mahkota, justru ketika dokter maupun perawatnya yang jadi korban, jasadnya pun ditolak untuk dimakamkan.
Karena terusik dengan sikap jauh dari rasa terima kasih oknum masyarakat tersebut, Mardani secara tegas mengatakan, tidak ingin peristiwa serupa terjadi di kampung halamannya, Kabupaten Tanah Bumbu.
“Mereka yang meninggal dunia karena korona itu bukan aib. Mestinya tidak perlu ada penolakan,” sesal Bupati Tanah Bumbu ke-2 dua periode itu.
Selain mengizinkan Alkah Haji Maming menjadi tempat pemakaman tenaga medis yang gugur karena korona, Mardani juga menyiapkan lokasi pemakaman umum untuk pasien Covid-19 yang meninggal dunia.
Lokasinya di kawasan Desa Sungai Dua. Di lokasi ini, pihak Yayasan Haji Maming menyiapkan lahan seluas 2 hektare.
“Untuk yang umum di situ, ada dua hektare. Satu hektare untuk makam warga muslim, dan satu hektare lainnya untuk warga Kristen dan Konghucu. Itu tanahnya hibah dari Yayasan Haji Maming,” jelas Mardani. (yb/b2n/foto: ist)