SEMARANG, banuapost.co.id– Pemerintah daerah diminta tidak memaksakan penerapan adaptasi kebiasaan baru atau new normal tanpa melalui tahapan-tahapan yang benar.
Bahkan pemerintah daerah diminta agar dalam membuat kebijakan, data-data sains dan saran-saran dari para ilmuwan dipakai sebagai salah satu pertimbangan agar kebijakan tepat sasaran.
Permintaan disampaikan Presiden Joko Widodo saat memberikan arahan terkait penanganan Covid-19 di Posko Penanganan dan Penanggulangan Covid-19 Provinsi Jawa Tengah, di Kompleks Kantor Gubernur setempat, Selasa (30/6).
“Jangan sampai kita berani membuka new normal, tetapi keadaan datanya masih belum memungkinkan. Jangan dipaksa. Sehingga tahapan-tahapan harus betul-betul disiapkan,” tegas presiden.
Sejumlah tahapan yang harus disiapkan, sambung Kepala Negara, pertama penyiapan prakondisi. Setelah prakondisi dilakukan, maka yang perlu diperhatikan waktu penerapan dengan mempertimbangkan data-data sains, seperti indikator angka penambahan kasus atau Rt dan R0.
“Timing-nya harus tepat. Jangan sampai Rt-nya masih tinggi di atas 1, R0-nya masih tinggi, kita sudah berani buka. Hati-hati, jangan membuat kebijakan tanpa sebuah data sains yang jelas,” tandasnya.
Selain itu, lanjut presiden, daerah juga perlu menentukan sektor mana yang akan diprioritaskan untuk dibuka. Sehingga tidak semua sektor dibuka secara bersamaan.
“Tidak langsung dibuka semuanya. Apakah sektor industrinya sudah memungkinkan, silakan. Apakah sektor pariwisatanya sudah memungkinkan, silakan. Tetapi juga mungkin masih dibatasi, kalau kapasitas biasanya 1.000 ya 500 dulu. Tidak usah tergesa-gesa, karena yang kita hadapi ini dua, kesehatan dan ekonomi yang semuanya harus berjalan dengan baik,” jelasnya.
Langkah terakhir, sambung presiden, monitoring dan evaluasi yang dilakukan secara rutin. Apakah setiap hari, setiap minggu, atau setiap dua minggu.
“Kepala daerah harus berani mengambil keputusan jika kondisi di lapangan berubah. Kalau keadaannya naik, tutup lagi. Harus berani memutuskan seperti itu,” imbuhnya. (yb/din/foto: laily rachev)