BANJARMASIN, banuapost.co.id– ‘Abah Raja Ai’ buku karya Nasrullah dan Riswan Irfani, tentang biografi salah satu tokoh Banua yang juga maestro lagu-lagu Banjar, Anang Ardiansyah, dibedah.
Kupas tuntas buku ‘Abah Raja Ai’ oleh pembicara khusus Almin Hatta, wartawan senior, dan Muchlis Maman, seniman Banua, berlangsung di Aula Kayu Baimbai, Balai Kota Banjarmasin, Sabtu (19/9).
Antusias peserta dalam bedah buku biografi sang pencipta lagu-lagu Banjar ini, cukup tinggi. Terlihat saat menyimak paparan yang disampaikan dua narasumber yang dipandu presenter Rini Muliana.
Bahkan Wali Kota Banjarmasin, Ibnu Sina, mengapresiasi buku yang menginspirasi dan memberikan edukasi tersendiri di balik sosok sederhana namun berkarakter, Anang Ardiansyah, yang mantan prajurit TNI-AD itu.
“Buku ini menyisipkan pesan moral dan keagaman. Kehidupan sosial, budaya yang beliau (Anang Ardiansyah, Red.) sampaikan lewat larik dan nada untuk Banua kian terpatri di hati kita dari generasi ke generasi,” ujar Ibnu Sina saat membuka acara.
Menurut Ibnu Sina, karya-karya maestro lagu banjar ini sangat dekat dengan Kota Banjarmasin. Salah satunya, Pangeran Suriansyah, yang menjadi prasasti sejarah tercetusnya Kota Banjarmasin.
Disadari atau tidak, lagu ini menjadi tagline di setiap sudut kota. Bahkan lagu Pangeran Suriansyah, masuk dalam materi muatan lokal di sekolah dasar. Karena sarat makna dan gampang diingat.
Bagi seorang Almin Hatta, buku yang ditulis dalam perenungan panjang Riswan Irfani dan Nasrullah, mampu membungkus sejarah yang selama ini tidak diketahui publik.
Tentunya melalui buku ini, publik akan banyak tahu di balik kisah perjalanan panjang Anang Ardiansyah. Terlebih dari 123 lagu yang diciptakan, ada sedemikian kisah misteri tentang apa yang menginspirasinya dan makna yang terkandung di setiap lagu dalam proses penciptaannya.
“Kedua penulis, memotret sisi lain dan bagaimana mengungkapkannya lewat tulisan. Sehingga lagu yang kita kenal itu, bisa diresapi dan jiwai lewat dendang ceria maupun ratapan lirih Anang Ardiansyah.” tutur Almin Hatta.
Lain Almin Hatta lain pula Muchlis Maman. Pria yang dikenal sebagai salah satu seniman teater dan dosen seni, menuturkan sosok Abah Anang Ardiansyah sendiri sebagai orang pintar menangkap inspirasi secara langsung.
Tak heran jika inspirasi itu sering diutarakan lewat “ bagarunum” yang akhirnya terciptalah sebuah lagu. Inilah salah satu pembeda dengan pencipta lagu lainnya, terutama lagu-lagu daerah.
“Tak kalah penting, beliau memiliki karakter dan kuat dalam nada dan juga syair. Beliau berbahasa Indonesia tetap lagu Banjar, termasuk dalam lagu-lagunya. Sebaliknya pengarang lagu lain meskipun menggunakan bahasa banjar, kelihatan bukan lagu banjar,” ujar Julak Larau, tokoh warung bubuhan. (yb/*/foto: ist)