BATULICIN, banuapost.co.id– Tanggalkan jabatan sebagai wakil rakyat terhormat yang berkantor di Gedung Nusantara, DPR RI, sebaliknya berkontestasi di Pilkada Tanbu 2020, Desember mendatang. Itulah Syafruddin H Maming (SHM).
Ada apa dengan Cuncung, sapaan akrab Syafruddin H Maming ini?. Padahal sebelum menjadi penghuni Senayan, SHM pernah juga berkantor di Rumah Banjar sebagai anggota DPRD Kalsel. Bahkan dua periode pula.
“Semuanya demi membangun tanah kelahiran,” jawab Cuncung singkat ketika ditemui awak media, belum lama ini, untuk menggali bagaimana sosok pria kelahiran Pulau Burung, 6 Januari 1977 itu, meski sudah mapan.
Jawaban singkat ini tentunya sangat beralasan. Sebab Cuncung terlahir dari keluarga yang cukup dikenal di Batulicin. Dia putra H Maming (alm), Kepala Desa (Pambakal) wilayah yang kini menjadi Ibu Kota Kabupaten Tanah Bumbu itu.
Seperti diketahui, Kabupaten Tanah Bumbu merupakan pemekaran Kabupaten Pulau Laut (kini Kotabaru, Red) sejak 2003. Kabupaten di pesisir selatan Provinsi Kalsel ini, 17 tahun silam hanya sebagai wilayah perlintasan menuju Kotabaru.
“Saya ingat pesan beliau. Pertama, kalau kita punya uang, bantulah dengan harta. Kalau tidak, bantulah dengan tenaga. Lalu kalau harta dan tenaga tidak punya, bantulah orang yang kesusahan dengan pemikiran,” kata Cuncung mengenang sosok sang mentor.
Cuncung memang tak setenar sang adik, Mardani H Maming, Bupati Tanah Bumbu dua periode yang saat ini sebagai Ketua Umum Badan Pengurus Pusat (BPP) Himpunan Pengusaha Muda Indonesia (HIPMI).
Meski demikian, duet M Alpiya Rahman (MAR) ini, juga memiliki sesuatu yang dibilang mirip dengan apa yang dimiliki Mardani selama ini.
Sebagai sosok ayah, lanjut Cuncung, H Maming merupakan sosok yang tegas, disiplin, dan tak pernah memanjakan anak-anaknya.
Meski anak seorang tokoh masyarakat di Batulicin, Cuncung justru biasa-biasa saja. Bahkan sempat menjadi buruh kayu selama dua tahun di dermaga Pasar Lama Batulicin.
Pekerjaan sebagai buruh dilakoni Cuncung sekira tahun 2000. Setelah usaha kayu macet pada 2004, Cuncung masih terus mengembara mencari jati diri.
Tahun 2008, ia diajak sang adik, Mardani, untuk bergabung ke Partai Kebangkitan Bangsa (PKB) yang ketika itu masih dinakhodai sang pendiri, KH Abdurrahman ‘Gus Dur’ Wahid.
Posisi Cuncung saat itu sebagai Ketua PAC PKB Kabupaten Tanah Bumbu. Belakangan, terjadi dualisme di dalam tubuh PKB.
Sebenarnya, Cuncung dan Mardani berusaha bertahan. Namun kondisinya tidak memungkinkan. Akhirnya mereka berdua hijrah ke partai lain, PDI Perjuangan.
Di partai berlambang banteng dengan moncong putihnya inilah, keduanya bisa berkembang menjadi sosok yang diperhitungkan di Kalsel. Dipilihnya PDI Perjuangan inipun juga atas izin orangtua mereka.
“Kalau tak ada izin orangtua, tak mungkin kami memilih PDI Perjuangan,” ungkapnya.
Bapak tiga putra ini juga dikenal karena menjadi ketua dan pengurus berbagai organisasi penting di daerah ini. Saat ini, ia tercatat sebagai Ketua Yayasan H Maming yang bergerak di bidang sosial.
Sebelum menjadi anggota Komisi III di DPR RI, Cuncung menduduki kursi Wakil Ketua Komisi III DPRD Kalsel.
Pada Pemilu 2014 itu, Cuncung mendapat suara nomor lima terbanyak se Kalsel dengan 19.930 suara. Bagi Cuncung, keputusannya maju di ranah politik adalah bentuk pengabdian kepada masyarakat.
Ia sendiri tak pernah berpikir untuk mencari keuntungan. Sebab hal yang paling utama dalam hidupnya, membantu masyarakat yang sedang kesulitan.
Motto hidup seperti ini, bisa jadi karena terinspirasi dengan tulisan Arab beserta terjemahannya: “Segalanya ini adalah karunia Allah”.yang terpampang di salah satu sudut ruang tamu rumahnya. Masya Allah. (yb/*/foto: ist)