BATULICIN, banuapost.co.id– Tak ingin seperti pribahasa: kacang lupa kulit. Itulah isi benak dr HM Zairullah Azhar dengan honorer dan PTT awal berdirinya Kabupaten Tanah Bumbu.
Sebab berkat bantuan tenaga honor dan PTT inilah, Tanah Bumbu sebagai sebuah kabupaten pemekaran Kotabaru, berkembang pesat.
Begitu fenomenalnya sebuah kabupaten baru di Provinsi Kalsel di tangan seorang Zairullah –kurun waktu delapan tahun sejak ditunjuk jadi karateker hingga bupati pertama–, sampai-sampai mendapat julukan si Bayi Ajaib.
Bahkan tak tanggung-tanggung, julukan Bayi Ajaib pun bukan datang dari Gubernur Kalsel waktu itu. Tapi dari Presiden RI ke-6 dua periode, Susilo Bambang Yudhoyono (SBY).
Julukan Bayi Ajaib untuk Tanah Bumbu, menurut Zairullah, karena berkat bantuan tenaga honor dan PTT. Tanpa mereka, roda pemerintahan akan kesulitan, terutama dalam memberikan pelayanan kepada masyarakat.
“Ini yang kita pikirkan. Tenaga honorer dan PTT akan kita tingkatkan kesejahteraannya. Karena dari merekalah Kabupaten Tanbu bisa berjalan saat pemekaran ketika itu,” jelasnya.
Komitmen mensejahterakan honorer dan PTT ini dikemukakan kandidat Bupati Tanah Bumbu nomor urut 3 dalam kampanye terbatas di Kecamatan Kusan Hilir, Sabtu (28/11).
Zairullah mengaku sempat kesulitan saat pemekaran Tanah Bumbu. Selain karena berdirinya kabupaten banyak yang tidak setuju, juga minim tenaga yang mengerti persoalan pemerintahan. . Namun dengan tekad kuat untuk mensejahterakan masyarakatnya, rekrut tenaga honorer dan PTT pun dilakukan.
“Alhamduliiah, berkat bantuan tenaga honorer dan PTT ini, Bumi Bersujud berkembang pesat hingga sekarang ini,” tandasnya.
Sementara seorang ibu guru ngaji sempat curhat, karena tidak ada gajih. Pengakuan ini terungkap dalam sesi dialog untuk menampung aspirasi.
“Saya sudah puluhan tahun pak mengajar mengaji, tapi saya ikhlas tak digaji. Kalaupun nanti dibantu pemerintah, saya akan senang sekali,” ujar Nurjannah, warga Desa Batuah.
“Maka dari itu, ini yang akan kita sejahterahkan. Selain anak yatim, janda dan fakir miskin, juga guru-guru ngaji,” jawab ayah dari ribuan anak yatim itu.
Menurut pengelola Istana Anak Yatim ini, guru ngaji punya peran penting mendidik, mengajarkan dalam membentuk akhlak anak-anak sejak kecil.
“Nilai-nilai keagamaan yang ditanamkan sejak kecil sangat bagus. Apalagi mengajarkannya untuk menjadi penghafal Al-Qur’an, Masyaallah,” imbuh Zairullah. (jack/foto: ist)