PELAIHARI, banuapost.co.id– Berbagai pekerjaan sudah ia coba. Mulai sebagai penjual sayur, penjual ayam potong, ikut orang bekerja, sampai menjadi karyawan sebuah hotel di Kecamatan Jorong. Namun akhirnya, memilih berjualan sate sebagai lahan mengais rezeki.
Itulah Siti Hasanah, wanita berusia 25 tahun kelahiran Anjir Mambulau, Kuala Kapuas, Kalteng, putri pasangan Tawas dan Ny Siti Aminah.
Dia sering terlihat di Ruang Terbuka Hijau Kijang Mas Permai, Pasar Simpang Staff Bajuin, kawasan Desa Pemuda atau KNPI serta Pasar Desa Sumber Mulya.
Wanita lajang itu tidak berjualan sate keliling pemukiman. Dia memilih mangkal di pasar-pasar mingguan. Salah satunya di RTH Kijang Mas Permai.
Anak keempat dari enam bersaudara ini, pernah bekerja dengan di Asam-Asam, pernah berjualan sayur dan beberapa pekerjaan non formal lainnya. Ia terpaksa mencari pekerjaan di tempat-tempat yang tidak harus menunjukkan ijazah, karena memang tidak pernah menyelesaikan sekolah dasar.
Faktor pendidikan inilah yang membuat wanita yang tinggal di Atu-Atu itu lintang pukang mencari pekerjaan. Karena sulit mendapatkan pekerjaan baik perusahaan maupun instansi pemerintah.
Faktor pendidikan ini pula yang membuat dia kesulitan mendapatkan surat izin mengemudi. Karena tidak dapat membuat rambu-rambu yang diminta petugas saat mengikuti ujian SIM.
2019 menjadikan titik awal ia akhirnya memilih berjualan sate. Sebagaimana profesi yang pernah dilakoni ayahnya yang saat ini berkebun karet di Anjir Mambulau Km 3.
Meski demikian, Siti Hasanah mengatakan dirinya berjualan sate karena kepepet. Pilihan ini diambil agar dapat menyelesaikan masalah keuangan. Walaupun sebenarnya sudah pernah membantu ayahnya berjualan sate di Anjir.
“Sebenarnya saya tidak kepikiran untuk berjualan sate, tapi ingin bekerja yang lain. Namun karena terdesak, saya akhirnya berjualan sate,” kata wanita yang biasa menggunakan topi saat berjualan.
Awal menekuni usaha jualan sate ini tidak begitu mulus. Ia harus banyak melakukan adaptasi dan mencari lokasi-lokasi yang kira-kira dapat membuat usahanya lancar.
Berjualan sate di depan rumah kakaknya, pernah dicoba. Namun hasilnya kurang memadai. Kemudian mencoba berjualan di pasar-pasar mingguan, seperti di Simpang Staff Bajuin, Pasar di Desa Pemuda dan RTH Kijang Mas Permai.
“Setelah melakukan beberapa percobaan di lapangan, saya akhirnya memilih untuk berjualan di pasar-pasar mingguan,” papar Hasanah.
Berkat ketekunannya berjualan sate ini, ia juga sudah memiliki pelanggan setia di setiap pasar tempatnya berjualan, termasuk di RTH Kijang Mas Permai.
Syarifah, warga Atu-Atu, Kecamatan Pelaihari, mengaku sering membeli sate jualan Siti Hasanah karena enak dan ayamnya tidak pakai lemak.
“Sering membeli sate dengan dia, enak sambalnya dan dagingnya benar-benar daging ayam, tanpa lemak,” ujar Syarifah.
Ketika disinggung masalah pacar, Siti Hasanah hanya tersenyum, dan berdalih fokus mencari uang untuk keperluan hidup. Karena berprinsip tidak ingin tergantung orang lain, meskipun itu keluarga sendiri.
Nah siapa yang ingin mencoba sate buatan Siti Hasanah, silahkan saja datang pada pagi minggu di RTH Kijang Mas Permai Pelaihari…selamat mencoba. (zkl/foto: zul yunus)