SURABAYA, banuapost.co.id– Hujan es melanda Surabaya dan Madiun, Jawa Timur, Senin (21/2). Namun tidak ada korban jiwa akibat butiran es yang menimpa.
Di Kota Pahlawan, Surabaya, hujan es ini terjadi sekitar pukul 14:50 WIB melanda kawasan Surabaya Barat, yakni Wiyung, Lontar, Bukit Villa Mas dan Gunung Sari.
“Iya, ada hujan es,” kata Khairin Anwar, warga Banjar yang sudah puluhan tahun bermukim di Ibu Kota Provinsi Jawa Timur itu.
Menurut Asylum, sapaan akrabnya, butiran es sebesar kelereng, hingga suaranya terdengar kencang di genting.
“Suaranya klotak-klotak di genting,” imbuhnya.
Sementara menurut Kasi Data dan Informasi BMKG Klas I Juanda Sidoarjo, Teguh Tri Susanto, fenomena hujan es atau hail, disebabkan adanya awan CB. Sehingga hujan lebat yang masih berupa partikel padat atau hail dapat terjadi, tergantung dari pembentukan dan pertumbuhan awan CB tersebut.
“Hujan es ini berasal dari awan cumulonimbus dengan cakupan luasan 3 hingga 5 kilometer,” jelas Teguh.
Hujan es, lanjut Teguh, biasanya terjadi dalam waktu singkat. Yakni mulai 3 hingga 5 menit saja. Selain itu, hujan es ini terjadi karena adanya updraft atau aliran udara naik dalam awan cumulonimbus yang sangat kuat. Updraft yang kuat ini, kemudian mengakibatkan awan tumbuh dengan menjulang tinggi lebih dari 5 km.
“Ketika uap air dari bagian bawah awan tertarik ke atas melewati lapisan titik beku atau freezing level, maka terjadi pengembunan secara tiba-tiba,” papar Teguh.
Selanjutnya, sambung Teguh, akan terjadi proses pembentukan es dengan ukuran sangat besar. Namun ukuran es yang sangat besar jatuh ke bagian bawah awan dan akan meluruh.
“Saat jatuh ke permukaan bumi, butiran es tidak sepenuhnya mencair tetapi masih ada yang berbentuk es,” jelasnya.
Sementara di Kota Madiun, kondisi serupa juga tak ditampik Kepala BPBD-nya, Muhammad Zahrowi.
“Betul dapat info telah terjadi hujan es di sebagian wilayah Kabupaten Madiun sore ini sekitar pukul 15:30 WIB,” katanya.
Wilayah yang diguyur hujan es, lanjut Zahrowi, salah satunya terjadi di Kecamatan Kebonsari. Antara lain di Desa Pucanganom.
“Sekitaran Desa Pucanganom, Kecamatan Kebonsari. Untuk desa lainnya kita masih cari info, karena belum ada laporan,” imbuh Zahrowi. (yb/foto: asy/wa)