JAKARTA, banuapost.co.id– Presiden Joko Widodo (Jokowi) memerintahkan PSSI untuk menyetop kompetisi sepakbola Liga 1 sampai evaluasi dan perbaikan dilakukan imbas tragedi Kanjuruhan yang menewaskan 127 orang.
“Saya juga memerintahkan PSSI untuk menghentikan sementara Liga 1 sampai evaluasi dan perbaikan prosedur pengamanan dilakukan,” ujar Jokowi secara daring di YouTube Sekretariat Presiden, Minggu (2/10).
Jokowi sendiri menyampaikan rasa duka yang mendalam atas tragedi sepakbola ini. Sampai berita ini ditayangkan, jumlah korban tewas Tragedi Kanjuruhan 127 orang dan korban luka mencapai 180 orang.
“Saya menyampaikan duka cita yang mendalam atas meninggalnya 127 orang saudara-saudara kita dalam tragedi sepakbola di Kanjuruhan, Malang, Jawa Timur,” tuturnya.
Presiden juga berharap tragedi ini menjadi yang terakhir kali terjadi di sepakbola tanah air.
“Saya menyesalkan terjadinya tragedi ini dan saya berharap ini adalah tragedi terakhir sepakbola di tanah air. Jangan sampai ada lagi tragedi kemanusiaan seperti ini di masa yang akan datang,” tegasnya.
“Sportivitas, rasa kemanusiaan, dan rasa persaudaraan bangsa Indonesia harus kita jaga bersama,” imbuhnya.
Selain memerintahkan PSSI untuk menghentikan liga, Jokowi juga memerintahkan Menpora, Kapolri serta Ketua Umum PSSI untuk mengevaluasi kejadian ini.
“Saya juga telah perintahkan kepada Menpora, Kapolri dan ketua umum PSSI untuk melakukan evaluasi menyeluruh tentang pelaksanaan pertandingan sepakbola dan juga prosedur pengamanan penyelenggaraannya,” ujar Jokowi.
“Khusus kepada Kapolri saya minta melakukan investigasi dan mengusut tuntas kasus ini,” lanjutnya.
Sebelumnya, kerusuhan di Stadion Kanjuruhan terjadi usai suporter Arema memasuki lapangan karena timnya kalah 2-3 dari Persebaya Surabaya, Sabtu (1/10) malam. Insiden itu direspons polisi dengan menghadang dan menembakkan gas air mata.
Gas air mata itu ditembakkan tidak hanya kepada suporter yang memasuki lapangan, tetapi juga ke arah tribun penonton yang kemudian memicu kepanikan.
Akibatnya, massa penonton berlarian dan berdesakan menuju pintu keluar, hingga sesak nafas, penumpukan massa, dan terinjak-injak. (yb/foto: dok)