Konon dikisahkan pada zaman dulu, penamaan Sungai Cuka diberikan oleh kaum migran yang berasal dari Alalak yang hijrah kekampung ini. Kedatangan mereka bukan tanpa sebab. Pada masa itu mereka dihantui kelompok sparatis atau lebih digelar dengan istilah gerombolan. Kelompok ini meresahkan. Ketakutan warga dengan kesewenang-wenangan yang diusung kelompok ini membuat masyarakat berbondong-bondong meninggalkan kampung halamannya untuk menyelamatkan diri. Kelompok ini tak segan-segan menghilangkan nyawa tokoh masyarakat maupun warga yang dianggap sebagai batu sandungan dalam melancarkan kekuasaannya. Masyarakat dihadapkan pada dua kondisi, pasrah atau malarikan diri sebelum gerombolan itu mengoyak-ngoyak tatanan hidup yang sudah pada jalurnya.
Perjalanan panjang yang ditempuh Moyang Rawi menggunakan jalur darat sudah ditempuh selama berhari-hari, akhirnya menemukan sebuah perkampungan kecil di pesisir Takisung. Di sana Moyang Rawi hanya bertahan sebentar. Terlihat beberapa rumah panggung sudah ditinggalkan penghuninya. Besar kemungkinan daerah itu merupakan bekas daerah jajahan kaum gerombolan yang sudah sampai ke daerah pesisir. Beberapa bangunan terlihat sudah lapuk. Ia berpikir jika bertahan di sini baginya ancaman.
“Tanda kehidupan sebelumnya ada di sini. Rumah-rumah ini kayunya sudah lapuk. Apakah gerombolan itu sudah membumi hanguskan tempat ini.” Nafasnya berat menghirup udara panas dari uap air laut yang naik oleh panasnya matahari.
Langkahnya terus menelisik menelusuri kawasan pantai. Daerah itu tidak menunjukan pergerakan kehidupan. Terlihat di ujung barat beberapa kayu ulin berserak disapu ombak. Langkahnya terus mengekori matanya yang menatap beberapa kayu yang tak jauh dari tempat ia berdiri. Perlahan tubuhnya membungkuk.
“Kapal. Kayu ini adalah kepingan kapal yang sudah hancur,” gumamnya dalam hati. Matanya menelisik. Terlihat diantara pohon mangrove rangka kapal yang sudah hilang Sebagian alasnya.
“Mungkinkan gorombolan itu menghancurkan kapal-kapal ini. Sepertinya harus segera meninggalkan tempat ini.” Moyang Rawi memunguti kayu besi yang berserakan di bawah pohon nyiur. Kakinya bergegas mendekati rangka kapal.
Hari semakin gelap. Moyang Rawi merakit kapal kayu dengan menggunakan kepingan kayu yang terberai hingga mengembalikan seperti bentuk semua. Dua hari dua malam Moyang Rawi merakit perahu kayu hingga akhirnya ia memutuskan untuk melanjutkan perjalanan menyisir pantai ke arah selatan. Di perjalanan ombak besar menghantam perahu yang ia tumpangi. Dengan segala keyakinan serta doa yang tak henti-hentinya dipanjatkan hingga sesuatu terjadi.
“Braaakk” perahu itu seperti menabrak benda keras. Badai yang mempermainkan kapalnya tiba-tiba menghilang. Perahu itu seperti terdampar di sebuah dataran bebatuan. Kondisi itu terlihat sangat aneh. Moyang menyadari bahwa ia belum sampai menemukan daratan. Ia masih berada di tengah lautan.
“Apa yang sebenarnya terjadi. Badai itu menghantarkan perahu ini seperti kesebuah daratan.” Moyang berbisik dengan pertanyaan yang tak masuk akal. Dengan lentera yang ia bawa. Perlahan ia memeriksa keadaan disekitarnya.
“Batu?” Moyang melihat bebatuan yang terlihat samar dari cahaya lentera. Ia keluarkan sampannya untuk mengukur kedalaman air yang ada dibawahnya itu.
“Dangkal.” Moyang menuruni perahu yang bersandar diantara bebatuan. Ia melihat badai masih menebas-biaskan ombak di sekeliling tempatnya. Bebatuan yang terlihat terhampar luas itu menyelamatkannya.
“Tempat apa ini? Bebatuan sangat luas.” Moyang terus memeriksa keadaan. Kakinya menyisir air laut yang hanya selutut. Ia terus melangkah menyusuri bebatuan di hadapannya. Moyang Rawi mengeluarkan beberapa lukah yang dipasang disela-sela bebatuan disekitar perahunya. Hingga akhirnya ia memutuskan untuk beristirahat menunggu pagi di atas perahu yang terhimpit di antara gugusan bebatuan itu.
Cahaya terlihat samar, Moyang Rawi mengamati sekitarnya. Bebatuan itu terlihat sangat jelas. Air laut sangat surut. Itulah sebabnya ia belum bisa bergegas meninggalkan tempat itu. Bebatuan itu sangat indah dan luas. Batu-batu itu seperti menampakkan bentuk-bentuk yang unik. Diantaranya seperti membentuk kepala dan ekor memanjang. “Dimanakah tempat ini” bisiknya. Datu mengangkat lukahnya. Beberapa ikan sudah berada di dalam lukah itu.
“Alhamdulilah.” Senyumnya sumringah. Perlahan air laut memenuhi rongga-rongga batu hingga perahu Moyang Rawi terangkat dipermukaan air dan kembali mengapung. Perjalanan dilanjutkan. Tak berapa lama samar-samar ia melihat daratan dengan hutan yang sangat lebat. Perahunya terus dikayuh hingga sampai di muara sungai besar yang dikelilingi banyak pohon hampalam atau masyarakat banjar menyebutnya pohon asam.
“Sungai Cuka” ujar moyang secara sepontan. Perahunya menepi, ada rasa syukur yang dipanjatkan. Akhirnya Moyang Rawi menemukan daratan yang subur setelah sekian lama perjalanan Panjang yang ditempuhnya. Dari situlah awal mula penamaan sungai cuka yang berarti sungai asam yang diambil dari banyaknya pepohonan hampalam yang mengelilingi sungai. Buah itu terkenal rasa asam seperti cuka.
***
Kedatangan Moyang Rawi menjadi cikal bakal pemukiman di daratan sungai cuka. Tak selang beberapa lama disusul oleh keluarga Ahmad. Kedatangan Datu Ahmad kala itu bersama istri dan seorang anak perempuan yang masih berusia sekitar tujuh tahun. Awalnya datu Ahmad bermaksud hanya singgah sebentar dan menumpang ke tempat Moyang Rawi untuk beberapa saat. Namun atas kebaikan Moyang Rawi menyarankan keluarga Ahmad untuk tinggal di kampung itu.
“Jika Pian tidak keberatan. Bolehkah ulun menumpang singgah di tempat Abah beberapa waktu.” Ahmad meminta persetujuan Moyang Rawi.
“Tentu saja. Abah himung banar. Tinggalah di sini Nak seberapa lama pun kamu mau. Di sini Kai hidup sendiri. Jika kamu mau. Kamu boleh mendirikan rumah di sekitaran sini.” Pinta Moyang Rawi dengan senang hati.
“Inggih, Abah. Minta ridho. Tarimakasih banyak.” Istri Ahmad menerima dengan senang hati.
Seiring berjalannya waktu keluarga Ahmad mendirikan pondok kayu tak jauh dari kediaman Moyang Rawi. Saadah istri Ahmad setia mendampingi suaminya membabat lahan yang ada disekitaran rumah tinggalnya. Beberapa sayuran mereka tanam dari sisa perbekalan yang mereka bawa dari perkampungan sebelumnya. Nastari putri semata wayangnya juga sangat riang bermain di daerah yang sangat sejuk karena rindang pepohonan. Beberapa tanaman hutan seperti cempedak, ramania, kasturi dan sukun banyak berada di tempat itu. Itu sebabnya Nastari sering mengambil buah-buah masak yang mulai berjatuhan di bawah pepohonan rindang di sekitaran pondok yang mereka tinggali.
“Mak, lihat.” Nastari membawa belasan kasturi yang ia bungkus menggunakan daun talas. Senyumnya sumringah memperlihatkan gigi susu yang berbaris rapi.
“Alhamdulilah, Nastari sekarang sudah sangat pandai. Dimana pian mendapatkan ini, Nak?.” Saadah membungkukan badannya. Matanya terlihat berbinar melihat putrinya mambawakan oleh-oleh dari hutan.
“Di sana!” tangannya menunjuk kearah pohon kasturi yang melewati semak belukar.
“Nastari suka tinggal disini?” ibunya bertanya dengan nada riang. Tangannya meraih buah yang disodorkan anaknya.
“Senang, Mak. Nastari sudah punya teman.” Jawabannya polos tanpa beban.
“Teman? Di mana temannya.” Saadah sedikit geli dengan pernyataan anaknya itu. Setau Saadah dan suaminya. Hanya Moyang Rawi dan keluarganya yang tinggal di kampung ini. Nastari mengangguk.
“Teman Nastari baik sekali. Dia yang membawaku keliling mencari buah. Itu, dia sedang di sana.” Nastari Kembali bercerita kepada ibunya. Tangannya menunjuk sebuah pohon besar. Senyumnya merekah perlahan ia lambaikan tangannya ke arah pohon itu. Ibunya menggelengkan kepala. Ada sedikit kekhawatiran.
“Nastari, ayo kita masuk.” Saadah melihat arah luar tak ada siapapun, bulu kuduknya semakin merinding. Ia buru-buru menggendong tubuh anaknya masuk ke dalam rumah.
Beberapa hari sebelum kejadian sore itu Saadah tak menghawatirkan keadaan anaknya. Sebelumnya yang ia tahu, Nastari selalu mengikuti abahnya mencari kayu di hutan. Saadah yang sibuk menanam benih sayuran disekitar rumah tak menyadari jika Nastari ternyata sering menghilang saat abahnya membabat lahan.
“Bah, sepertinya ada sesuatu dengan putrimu.”Saadah berusaha menceritakan sesuatu yang mengganjal pikirannya.
“Kenapa Nastari, Mak? Anaknya sehat dia suka tinggal di sini.” Ahmad menepis kekhawatiran istrinya.
“Apa Abah tidak menyadari beberapa hari ini dia sering berkata aneh. Katanya dia punya teman, rumahnya tak jauh dari tempat kita. Apa Abah melihat ada rumah warga di sekitar sini?.” Saadah menanyakan tentang keberadaan warga di sekitar rumahnya.
“Ada ada saja, yang tinggal di sini ya hanya keluarga kita dan Abah Rawi, Mak. Namanya anak kecil, bisa saja Nastari rindu sama Tidar teman bermainnya saat berada di kampung.” Ahmad sedikit berkelakar dengan sedikit tertawa.
“Justru anak kecil itu jujur, Bah. Jangan-jangan.”
“Jangan berpikiran macam-macam, Mak. Setiap hari Nastari Bersama abah. Dia sangat riang bermain bersama si gandung monyet kecil yang di bawanya setiap hari. Coba lihatlah anakmu, dia tidur pulas dan badannya semakin tinggi. Ayo tidurlah mak. Malam sudah larut. Esok kita lanjutkan pekerjaan di kebun lagi.” Ahmad membujuk istrinya supaya tidak berpikir macam-macam. Mata saadah belum juga terpejam. Pengakuan anaknya membuat ia terjaga setiap malam. Nastari juga pernah mengatakan jika rumah temannya itu sangat bagus dan besar. Ia sangat senang berada di sana.
***
Hari menjelang senja. Nastari belum juga pulang. Ayahnya pulang membawa kayu bakar sendirian. Saadah yang melihat kedatangan suaminya tanpa Nastari menimbulkan pertanyaan besar. Ahmad menyangka anaknya sudah pulang duluan. Dia melihat sepanjang perjalanan Nastari berjalan di hadapannya. Dengan sedikit berlari akhirnya Nastari hilang di antara semak belukar. Itulah sebabnya Ahmad menyangka anaknya sudah berada di rumah lebih awal. Saadah yang sudah menunggu sejak lama menyadari ada yang tidak beres dengan keadaan. Akhirnya Ahmad dan istrinya bergegas kembali ke hutan mencari Nastari di tempat terakhir bersamanya. Nama Nastari terus di sebut. Namun tak ada sahutan. Matahari beranjak turun dan hutan itu semakin gelap. Suami istri itu kemudian memutuskan meminta bantuan ke rumah Moyang Rawi.
“Apa yang harus kami lakukan, Bah. Nastari tiba-tiba menghilang. Sampai malam ini dia tidak juga pulang kerumah.”
“Apa mungkin dia lupa jalan menuju kerumah, Nak Ahmad?” Moyang Rawi bertanya memastikan.
“Rasanya tidak mungkin, Bah. Setiap hari Nastari hanya bermain disekitaran rumah dan tempat saya bekerja. Bahkan tadi siangpun, dia juga masih Bersama ulun.” Sahut Ahmad dengan yakin.
“Bisa juga dia tersesat saat dia jauh dari pengawasanmu.” Moyang Rawi menambahkan.
“Beberapa hari ini, anak ulun bicaranya pina meranyau bah. Perasaan ulun tidak enak. Abahnya ulun kasi tau tapi tidak percaya.” Saadah menceritakan kejadian sebelumnya.
“Apa yang membuatmu khawatir, Nak Saadah.”
“Inya bepadah punya kawan bah. Ujar ulun itu kada mungkin. Sedangkan yang berada di desa ini hanya kita saja.”
Moyang Rawi menarik nafas Panjang. Ia menangkap apa yang dibicarakan Saadah. Beberapa hal memang tidak bisa dijelaskan dengan logika. Moyang Rawi sebagai tetuha yang mendiami tempat inipun menyadari bahwa memang di manapun kita tinggal tidak benar-benar hidup sendiri. Manusia berdampingan dengan alam sebelah. Moyang Rawi menenangkan hati suami istri itu. Hingga keberadaan putrinya hingga beberapa lama tidak diketahui keberadaannya. Benar-benar tak ada kabar.
Semenjak kepergian putrinya, Saadah sering sakit-sakitan. Ia juga sering pergi ke hutan sendirian mencari-cari keberadaan anaknya yang tak kunjung datang. Banyak beban pikiran yang ditanggungnya hingga iapun menderita sakit mendadak. Tak berapa lama Istri Ahmad meninggal. Semenjak kepergian istrinya, Ahmad hidup sendirian. Ia sering menghabiskan waktunya menyendiri. Setiap pagi ia berangkat mengemudikan perahunya ke laut. Kesedihan yang bertubi-tubi setelah kehilangan anak istrinya, ia memutuskan untuk meninggalkan kampung itu. Ia melanjutkan perjalanan ke arah selatan.
Moyang Rawi yang melihat kondisi Ahmad kian terpuruk tidak sampai hati melarangnya pergi dari kampung itu. Beberapa pendatang mulai singgah dikampung sungai cuka sebagai tempat pelarian dari pengejaran kaum gerombolan. Beberapa rumah berjejer membentuk perkampungan kecil. Masyarakat pendatang rata-rata dari perkampungan Martapura yang sebelumnya tinggal di bantaran sungai Martapura. Itu sebabnya mereka sangat mahir dalam mencari ikan. Selain melaut mereka juga membabat lahan untuk dijadikan lahan perkebunan.
Hujan semalaman membuat penduduk kampung beristirahat melaut. Hal itu dimanfaatkan beberapa masyarakat untuk membenahi jala dan kapal yang rusak. Terlihat Masdar dan Matkoleh membenahi jala di rumah Moyang Rawi. Sebagai kaum tua yang berpengalaman, rumah moyang Rawi yang tak jauh dari Pelabuhan kapal nelayan dijadikan sebagai tempat reparasi kapal dan jala oleh penduduk kampung. Rumahnya tak pernah sepi. Tak jarang masyarakat membeli jala yang disulam dari hasil kerajinan tangan Moyang Rawi.
“Bah, apakah sebelumnya sudah ada yang meninggal di desa ini?.” Ujar Masdar menanyakan sesuatu.
“Benar, Nak. Beberapa tahun lalu ada sepasang suami istri yang tinggal di tempat ini. Istrinya meninggal. Kamu melihat kuburannya?” Moyang Rawi bertanya meyakinkan. Tangannya dengan cekatan menyulam jaring di hadapannya.
“Inggih, Bah. Saat ulun merumput di sebelah barat di bawah pohon kasturi ada batu nisan. Saya lupa namanya . Kalo tidak salah makam binian.” Masdar menjelaskan.
“Maksud mu, di sebelah rumah kosong itu, Dar?.” Matkoleh tidak percaya.
“Iya, Mat. Semalam saya melihat ada kuburan di situ.” Masdar meyakinkan
“Ngeramput. Saya hari-hari melalui jalur itu, tak pernah melihat ada kuburan di situ. Malahan yang saya lihat anak kecil yang sering bermain di bawah pohon kasturi situ. Dia mengambil buah kasturi yang sudah masak. Anehnya anak-anak itu tak pernah saya jumpai sebelumya di kampung sini. Entah anak siapakah.” Ujar Matkoleh menjelaskan. Matkoleh merasa dibohongi karena setiap hari ia juga melewati tempat itu saat mau berkebun ke arah barat.
“Anak-anak, ngeramput. Tak pernah ada anak-anak bermain di situ.” Masdar kembali mempertanyakan.
“Sungguh aku tak berdusta.”
“Akupun tak berdusta, ada kuburan di situ. Besok kita datangi.”