JAKARTA, banuapost.co.id– Menteri ESDM diminta meninjau kembali kebijakannya atas larangan ekspor nikel yang akan diberlakukan Januari 2020.
Pasalnya
dengan larangan salah satu hasil perut bumi tersebut, berdampak pada harga
batubara yang semakin menurun. Sehingga akibatnya, akan banyak menambah pengangguran.
“Sebab selain produsennya gulung tikar, perusahaan batubara pun jika dengan harga yang makin turun, terancam tidak akan beroperasi. Akibatnya, pengangguran makin banyak,” kata Wakil Bendahara Umum Himpunan Pengusaha Muda Indonesia (HIPMI), Mardani H Maming.
Menurut
Kandidat Ketua Umum HIPMI periode 2019 – 2022 di Munas ke-XVI, akhir September mendatang, dalam
keterangan tertulis yang diterima redaksi banuapost.co.id,
Kamis (12/9) petang, sekarang harga batubara semakin menurun imbas larangan
ekspor nikel Januari 2020.
Karena
itu jika tidak diperhatikan pemerintah, maka sudah dapat dipastikan akan banyak
terjadi pengangguran. Sebab akan banyak perusahaan tambang nikel dan batubara
yang tutup.
Bahkan, tegas Ketua Umum Asosiasi Pemerintah Kabupaten Seluruh Indonesia (Apkasi) ini, larangan ekspor nikel juga akan berdampak kepada nilai dolar yang semakin tinggi. Hal tersebut terjadi karena semakin sedikitnya komoditas ekspor Indonesia ke luar negeri.
Karena
dampak khususnya ke pekerja, perlu dilakukan pengkajian lebih lanjut dengan tim
ekonomi dan Menteri ESDM,” kata Bupati
Tanah Bumbu ke-2 dua periode itu.
“Kami selaku pengusaha, berharap bisa didengar
aspirasinya. Semoga ke depannya Menteri ESDM bisa menyerap aspirasi kami dan
mengadakan sebuah diskusi dengan mengundang anggota HIPMI dan para pengusaha
nikel, pengusaha tambang dan batubara untuk duduk bersama guna mencari jalan
keluar yang terbaik bagi masa depan Indonesia,” pungkas CO PT Maming dan
PT Batulicin itu.
Seperti diketahui, pemerintah melalui Kementerian ESDM, memutuskan
untuk memberlakukan larangan ekspor nikel mulai Januari 2020.
Menurut Dirjen Mineral Kementerian ESDM, Bambang Gatot, alasan yang melatarbelakangi
munculnya kebijakan, selain karena cadangan sudah mulai menipis, nikel kadar
rendah sudah dapat diolah negara untuk bahan baku baterai mobil listrik. (yb/b2n/foto: beben)
