BANJARMASIN, banuapost.co.id– Pemerintah Kota Banjarmasin berencana menambah Polymerase Chain Reaction (PCR), jika 2 alat bantuan pemerintah pusat belum juga mampu mengatasi antrian pemeriksaan swab.
Seperti diketahui, PCR merupakan pemeriksaan laboratorium untuk mendeteksi keberadaan material genetik dari sel, bakteri, atau virus. Saat ini, PCR juga digunakan untuk mendiagnosis penyakit Covid-19, yaitu dengan mendeteksi material genetik virus korona.
Rencana untuk menambah sendiri alat tersebut dikemukakan Wali Kota Banjarmasin, Ibnu Sina, di sela-sela mencoba perahu tambangan di siring, Kamis (11/6).
Menurut Ibnu, dari sampel swab yang telah dilakukan, memiliki batasan waktu. Sehingga jika 2 minggu sampel tidak diuji dengan PCR, maka hasil swab dianggap tidak valid.
“Untuk antrian Banjarmasin, hampir 500 yang belum diperiksa sampelnya. Sehingga kemudian kita berpikir, kenapa tidak mengadakan sendiri saja,” ujar Ibnu.
Sebanyak 2.800 sampel yang dilayani, baik itu dari Kalsel dan juga Kalteng, belum diuji ke PCR mengingat keterbatasan alat yang ada. Sehingga Pemko Banjarmasin berusaha mencari solusinya.
“Kalau ini lambat hasilnya, kita akan kesulitan dalam menegakkan diagnosis,” imbuhnya.
Karena itu dengan adanya alat PCR sendiri, sambung Ibnu, akan sangat membantu dalam mempercepat penanganan hasil tes swab yang diujikan di alat PCR dalam waktu singkat. Sehingga antrian sampel swab, segera teratasi.
“Kalo untuk Banjarmasin minimal 1 PCR dengan kapasitas 150. Kalau misalkan ada 500 sampel, kan paling 5 hari selesai,” ujarnya. (ham/foto: hamdiah)