MARABAHAN, banuapost.co.id– Banyaknya pengalihan fungsi lahan, ketidaklayakan kehidupan petani serta tidak adanya model bisnis yang tepat untuk penguatan pertanian, merupakan permasalahan dalam mewujudkan ketahanan pangan di Kalsel.
Karena itu dalam mewujudkan ketahanan pangan sebagaimana yang diharapkan pimpinan nasional, menurut Direktur Utama Bank Kalsel, Agus Syabarrudin, perlu dibangun sebuah sinergi.
“Baik antara petani, pemerintah dan bank daerah, dalam hal ini Bank Kalsel, guna membangun ekosistem keuangan daerah yang nantinya akan menunjang pengelolaan keuangan daerah lebih efektif dan efisien,” jelas Agus yang menjadi narasumber dalam gathering bersama para petani binaan, Kamis (10/9).
Gathering yang digelar di Gedung Sistem Resi Gudang, Kecamatan Anjir Muara, Barito Kuala, mengusung tema: “Peran Bank Kalsel mendukung Pemerintah Daerah dalam Pemberdayaan Petani dan Ketahanan Pangan Kalsel”.
“Untuk itu, Bank Kalsel menawarkan sebuah solusi dengan mengemas sebuah ekosistem keuangan daerah,” imbuh Agus.
Di awal paparannya, Agus menyampaikan kinerja Bank Kalsel yang semakin membaik meski, di tengah kondisi pandemi Covid-19 yang berimbas tidak pada masalah kesehatan tapi juga perekonomian nasional.
Salah satunya, menurut Agus, ditandai dengan Risk Based Bank Rating (RBBR) hasil penilaian Otoritas Jasa Keuangan (OJK) per Juni 2020, menunjukan pada Peringkat Komposit 2 (PK-2).
“Hal ini mencerminkan kondisi bank secara umum sehat. Sehingga dinilai mampu menghadapi pengaruh negatif yang signifikan dari perubahan kondisi bisnis dan faktor eksternal lainnya,” tegas Agus.
Padahal sejak 2014, lanjut Agus, Bank Kalsel selalu berada pada Peringkat Komposit 3 (PK-3) atau Cukup Sehat.
“Oleh sebab itu, Bank Kalsel akan terus meningkatkan pelayanan, khususnya terkait proses kredit yang sesuai dengan kebutuhan dana bagi petani,” pungkas Agus Syabarrudin. (yb/adv/foto: ist)