BANJARMASIN, banuapost.co.id– Akademisi komunikasi perlu mengambil peran dalam aksi komunikasi kesehatan untuk mewujudkan generasi emas yang cerdas dan sehat dari paparan rokok.
Ini mengingat Indonesia merupakan satu-satunya negara di Asia Tenggara yang tidak memiliki kebijakan pelarangan iklan rokok di media, sebagaimana laporan Organisasi Kesehatan Dunia atau World Health Organization (WHO).
Hal tersebut disampaikan Wakil Sekretaris Jendral (Wasekjen) Aliansi Akademisi Komunikasi untuk Pengendalian Tembakau (AAKPT), Sri Astuty, pada kegiatan webinar dengan tema Kebijakan Iklan, Promosi, Sponsor Rokok dan Kontribusi Akademisi Komunikasi oleh AAKPT melalui zoom meeting, Sabtu (12/6).
Untuk itu, menurut dosen Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik (FISIP) ULM Banjarmasin tersebut, saat ini perlu ada kerja sama dari berbagai pihak untuk melakukan advokasi kebijakan terkait pengendalian tembakau.
“Hal ini perlu menjadi perhatian penting. Karena berdasarkan data dari fakta tembakau, disebutkan Indonesia merupakan pasar rokok tertinggi ketiga di dunia setelah China dan India,” jelasnya.
Sementara menurut Ketua AAKPT, Dr Eni Maryani yang juga dosen Universitas Padjadjaran, webinar yang dilaksanakanmerupakan debut perdana AAKPT sebagai bentuk kepedulian pada isu pengendalian tembakau.
“Sekaligus juga sebagai wujud Tri Dharma Perguruan Tinggi terkait dengan Pengabdian Kepada Masyarakat,” ujarnya.
Saat ini, sambung Dr Eni, dibutuhkan upaya mengedukasi masyarakat terkait kesadaran mereka dalam hal bahaya rokok, terutama di kalangan remaja maupun orang tua.
Sedang Ketua Panitia Kegiatan, Kiki Soewarso yang merupakan akademisi dari di IKB-LSPR mengatakan, pelaksanaan webinar bertujuan membangun sudut pandang komunikasi mengenai isu kebijakan terkait pengendalian tembakau.
“Yang mana kebijakan tersebut dalam rangka melindungi anak dan remaja dari terpaan iklan, promosi dan sponsor rokok,” katanya.
Sebagai narasumber pada webinar tersebut, Koordinator Pengendalian Sistem Elektronik dan Konten Internet dari Kemenkominfo, Drs Anthonius Malau, dan Sekjen AAKPT, Dr. Lestari Nurhajati.
Juga hadir dalam webinar, Asdep Pengendalian dan Penanggulangan Penyakit, Kemenko PMK, Dr Nancy Dian Anggraeni, M.Epid sebagai pembicara kunci dan Dina Kania, SH, LLM dari WHO Indonesia.
AAKPT merupakan organisasi yang beranggotakan para akademisi jurusan Ilmu Komunikasi dari berbagai perguruan tinggi di Indonesia yang didirikan 31 Mei lalu, bertepatan dengan peringatan Hari Tanpa Tembakau se-Dunia (World No Tobacco Day). (di/foto: ist)