JAKARTA, banuapost.co.id– Ucapan rasis Edy Mulyadi, kader Partai Keadilan Sejahtera (PKS), kalau Kalimantan sebagai tempat jin buang anak sehingga pembangunan hunian di Ibu Kota Negara (IKN) baru di Kaltim, pembelinya hanya genderuwo dan kuntilanak, mendapat reaksi keras tokoh-tokoh asal pulau yang terkenal di dunia dengan suku Dayaknya ini.
Salah satunya, Ketua Umum Badan Pengurus Pusat (BPP) Himpunan Pengusaha Muda Indonesia (HIPMI), Mardani H Maming.
Menurut Dani, sapaan akrabnya, perbedaan pendapat soal keberadaan IKN harus dengan cara yang santun dan logis, terutama dengan landasan data serta analisa.
“Sebagai orang Kalimantan, saya sangat tersinggung! Perdebatan pendapat dalam alam demokrasi, sah-sah saja, terlebih oleh orang-orang intelektual. Tapi tolong, sampaikan dengan cara-cara santun, logis berdasarkan data dan analisa sesuai dengan keintelektualanya,” tandas mantan Bupati Tanah Bumbu (Tanbu) dua periode itu, Ahad (23/1).
Untuk membangun sebuah daerah, sambung pengusaha sukses asal Tanah Bumbu ini, perlu sebuah afirmasi kebijakan yang juga dilakukan atau dicontohkan Presiden Joko Widodo. Karena pemindahan IKN tidak hanya soal bangunan fisik. Tetapi menjadi wujud keseriusan Indonesia dalam mendorong keramahan lingkungan, dimana energi hijau menjadi yang utama.
Pemindahan IKN baru ke Kalimantan, tentu perlu mendapatkan dukungan dari semua pihak. Jika pihak lain menyatakan penolakan, jangan sampai menghina atau rasis. Sebab itu sangat jauh dari azas toleransi yang selama ini diagung-agung di NKRI.
“Karena itu, hati-hati dalam menyampaikan pendapat. Saya bangga lahir di Kalimantan yang menjadi bagian NKRI dan mendukung kebijakan Pak Jokowi sebagai pemerataan pembangunan,” ujar Bendahara Umum PBNU ini dalam akun Instagramnya @mardani_maming yang kolom komentar mendapat dukungan ribuan netizen, hingga Presiden PKS, Ahmad Syaikhu, juga turut berkomentar.
Sekedar diketahui, terkait pemindahan IKN baru ke Kalimantan Timur, Edy Mulyadi mempertanyakan perusahaan mana yang ingin membangun dan memasarkan hunian yang dibuat di Kalimantan.
“Pasarnya siapa? Kalau pasarnya kuntilanak, genderuwo, ngapain gue bangun di sana?” ucapnya.
Setelah itu, Edy Mulyadi pun menanyakan kepada pria di sebelahnya yang tinggal di Gunung Sahari, Jakarta Pusat, apakah berminat pindah ke Kalimantan.
“Ngak ada. Nih, sampean tinggal di mana? di mana Jakartanya? Mana mau dia tinggal di Gunung Sahari pindah ke Kalimantan, Penajam sana, untuk beli rumah di sana. Gua mau jadi warga ibu kota baru, mana mau?” tuturnya.
Dalam video yang diunggah di kanal Youtube miliknya, Selasa (18/1), Edy Mulyadi bersama sejumlah pihak lainnya menyatakan penolakan terkait pemindahan IKN Baru ke Kalimantan. (yb/foto: ist)