PULANG PISAU, banuapost.co.id– Kelompok pengrajin anyaman rotan Uwei Pambelom, salah satu pengrajin di Desa Gohong, Kecamatan Kahayan Hilir, Kabupaten Pulang Pisau, bertahan di tengah persaingan
Dibina Bank Indonesia (BI) sejak Navember 2016, bertujuan untuk mempekerjakan ibu-ibu rumah tangga agar bisa mendapatkan tambahan penghasilan dengan membuat tas selempang, tas pinggang, dompet, pas bunga, topi dan tikar serta ragam sovenir dan aksesoris lainnya.
Untuk anggota kelompok yang ada bekisaran 19 orang, menurut Tutie (31), Ketua Kelompok Uwei Pambelom, setiap orang mengerjakan anyaman rotan di rumah masing-masing.
“Jadi untuk finishing dibuat di tempat ini. Sedang untuk pengrajin bahannya, para anggota mengerjakan di rumahnya,” jelasnya.
Kelompok ini juga melakukan pemasaran menggunakan sosial media, seperti Shopee dan Buka Lapak dengan penjualan ke Bali, Jawa Tengah, Kalimantan Selatan, Kalimantan Utara dan Kalimantan Timur.
Meski permintaan pasar meningkat, namun untuk saat ini ada sedikit kendala karena harga bahan rotan mengalami kenaikan. Dari yang sebelumnya mencapai 5 persen, sekarang sudah 10 persen dari harga normal. Padahal permintaan pasar masih cukup tinggi.
“Jadi untuk saat ini, kendalanya pasar semakin besar. Sementara produksinya melambat,” ujar Tutie.
Meskipun bahan rotan sedang mengalami kenaikan, dan membuat melemah dalam produktivitas, untuk pemasaran penjualan masih bisa berjalan.
“Alhamdulillah dengan pemanfaatan sosial media sebagai sarana pemasaran, selain penjualannya lumayan naik, juga karena kita open reseller,” ungkapnya.
Kelompok pengrajin anyaman rotan Uwei Pambelom ini berencana ingin mengajak para kaum laki-laki diikutsertakan dalam bidang produksi.
Pasalnya jika melihat kelompok yang hanya didominasi kaum ibu-ibu ini, terkadang masih butuh tenaga untuk membuat karya kerajinan anyaman rotan yang berbeda.
“Rencana kita nanti untuk produksi kerajinannya tidak hanya mengandalkan ibu-ibu. Tapi nanti bapak-bapak atau remaja yang nganggur untuk membuat produk berbeda, seperti keranjang, kap lampu atau semacamnya dari hati rotan atau bisa kita sebut pitrit,” ucap Tutie.
Karena sementara ini, lanjut Tutie, hanya menganyam sembilunya. Meski demikian, harus ada pelatihannya terlebih dahulu.
Apalagi kalau melihat masyarakat di Gohong ini sebagian besar sebagai petani karet yang kalau musim hujan tidak bisa kerja ke kebun. Terlebih lagi ayaman rotan ini diterima pasar global, meski aksesnya agak susah. (rie/foto: arief)