JAKARTA, banuapost.co.id– Menginjak usianya yang setengah abad 10 Juni mendatang, Himpunan Pengusaha Muda Indonesia (HIPMI) banyak memberikan kontribusi penting bagi kemajuan perekonomian Indonesia melalui berbagai programnya.
HIPMI bukan saja mencetak para entrepreneur, tapi juga melahirkan para pemimpin muda di negeri ini. Sebut saja sekarang ini Bahlil Lahadalia, Erick Thohir, Sandiaga Salahuddin Uno dan Muhammad Lutfi. Mereka mantan Ketua Umum BPP HIPMI.
Karena itu, HIPMI bak kawah candradimuka para pengusaha muda yang karakter dan kemampuannya dibentuk untuk menjawab tantangan jaman.
“Sebab hanya dengan skill, terwujud sumber daya manusia (SDM) yang kreatif, berkualitas dan berdaya saing serta melek teknologi dan informasi,” kata Ketua Umum Badan Pengurus Pusat (BPP) HIPMI, Mardani H Maming, di Jakarta, Jumat (27/5).
Pendirian organisasi ini, sambung Mardani, dilandasi dengan semangat untuk menumbuhkan wirausaha di kalangan pemuda. Sebagai wadah, HIPMI mendorong pengusaha muda Indonesia turut bertanggungjawab terhadap pertumbuhan ekonomi dan ketahanan nasional.
“HIPMI juga dituntut turut mencari dan membentuk identitas pengusaha nasional, baik sekarang maupun yang akan datang, dalam proses akselerasi dan modernisasi,” jelasnya.
Menurut Mardani, dalam perjalanannya meski diterpa krisis ekonomi pada 1998, HIPMI yang didirikan pada 10 Juni 1972 oleh Abdul Latief, mantan Menaker era Soeharto, telah sukses mencetak kaderisasi wirausaha dengan tampilnya tokoh-tokoh muda dalam percaturan dunia usaha nasional maupun internasional.
“Keadaan tersebut kemudian dapat mengubah pandangan masyarakat terhadap profesi pengusaha pada posisi terhormat,” ucap Mardani.
Sebagaimana berdirinya, HIPMI dilatarbelakangi Konferensi KADIN ASEAN dengan tujuan agar kelak dapat sejajar dengan pengusaha muda lainnya di tingkat internasional.
Oleh sebab itu, HIPMI terus melakukan usaha-usaha demi menggerakkan sektor perekonomian bangsa. Salah satunya ikut aktif dalam sektor usaha mikro, kecil dan menengah (UMKM).
“HIPMI juga membantu para pelaku UMKM dengan memberikan modal,” tegas Mardani.
Selain itu, sambung Mardani, HIPMI juga ikut serta memantau kebijakan-kebijakan yang dibuat pemerintah, mencermati perkembangan situasi perekonomian dan memandang perlu menyikapi serta mengambil langkah-langkah strategis. Tidak hanya untuk kepentingan organisasi, tetapi untuk perekonomian bangsa dan negara Indonesia.
Bahkan dalam kurun waktu 50 tahun, organisasi ini banyak melahirkan bukan saja entrepreneur-entrepreneur muda. Tapi juga melahirkan pemimpin-pemimpin muda.
“Kami ingin membuktikan, HIPMI adalah organisasi yang hebat dengan kader-kadernya siap menjadi pemimpin-pemimpin serta entrepreneur,” tandasnya.
Sebagai Ketua Umum BPP HIPMI saat ini, Mardani berkomitmen melanjutkan perjuangan HIPMI tersebut, sebagaimana motto organisasi: Pengusaha Pejuang – Pejuang Pengusaha, yang memiliki makna: kader-kader HIPMI tidak saja diharapkan menjadi pengusaha nasional yang tangguh ,tetapi juga menjadi pengusaha yang berwawasan kebangsaan dan memiliki kepedulian terhadap tuntutan nurani rakyat.
Saat ini, menurut Mardani, jumlah pengusaha di Indonesia hanya sekitar 3,4 persen. Jumlah ini masih kurang untuk menjadi syarat sebagai negara maju. Karena untuk menjadi negara maju, Indonesa membutuhkan jumlah pengusaha 12 hingga 14 persen.
“Karea itu saya berharap, perjuangan HIPMI mencetak para entrepreneur atau pengusaha muda ini, dapat terus dilanjutkan dari tahun ke tahun. Sehingga jumlahnya terus bertambah dan pada masanya, Indonesia sangat pantas menyandang status negara maju,” pungkas Mardani. (yb/foto: dok)